Alasan Rusia Buru Pendiri Telegram Pavel Durov hingga Terancam Penjara Seumur Hidup

Alasan Rusia Buru Pendiri Telegram Pavel Durov hingga Terancam Penjara Seumur Hidup

Terkini | inews | Kamis, 30 Juli 2026 - 11:02
share

MOSKOW, iNews.id - Rusia memburu pendiri Telegram, Pavel Durov, dengan memasukkannya dalam daftar buronan internasional. Badan intelijen Rusia FSB menuduh Durov membantu aktivitas Ukraina dengan membiarkan platform Telegram digunakan untuk mendukung aksi sabotase, terorisme, hingga penipuan siber.

Menurut FSB, Telegram menolak menghapus unggahan dan akun yang terkait dengan Ukraina. Rusia menilai kebijakan tersebut membuat platform itu dimanfaatkan dinas intelijen Ukraina untuk menjalankan berbagai operasi yang mengancam keamanan Rusia.

Dalam pernyataannya, FSB menyebut dinas intelijen Ukraina menggunakan Telegram untuk mempersiapkan aksi sabotase dan terorisme di wilayah Rusia, termasuk pembunuhan massal serta penipuan siber yang menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak.

FSB juga mengklaim aktivitas tersebut menyebabkan kerugian materiil hingga miliaran dolar AS.

"Kepala administrasi Telegram, P Durov, telah didakwa sebagai bagian dari kasus pidana yang sedang berlangsung, atas dasar kejahatan berdasarkan Bab 1.1 Pasal 205.1 (bantuan terhadap aktivitas terorisme) dari KUHP Rusia, dia telah dimasukkan dalam daftar buronan internasional," demikian pernyataan FSB, seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (29/7/2026).

Selain memburu Durov, otoritas keamanan Rusia juga meningkatkan penindakan terhadap aktivitas yang disebut terkait dengan Ukraina di Telegram. Sepanjang Juli, aparat menangkap 46 warga Rusia di 16 wilayah yang diduga terlibat melalui layanan kencan Telegram bernama "Leomatch".

FSB menuduh para agen dinas rahasia Ukraina memanfaatkan layanan tersebut dengan menyamar sebagai perempuan untuk mendekati pemuda Rusia melalui hubungan romantis di dunia maya.

Menurut FSB, para agen kemudian mengirimkan geolokasi lokasi pertemuan, yang umumnya berada di pusat perbelanjaan atau di dekat fasilitas penting. Sebagai imbalannya, target dijanjikan tiket bioskop, konser, atau hadiah melalui tautan phishing.

Rusia menuduh sebagian dari mereka kemudian diarahkan untuk melakukan aksi kriminal, termasuk menyerang petugas penegak hukum dan membakar berbagai objek atas instruksi dinas rahasia Ukraina. Namun, tuduhan tersebut merupakan klaim dari pihak FSB sebagaimana disampaikan dalam pernyataannya.

Topik Menarik