Ratusan Mantan Perwira Israel Minta Trump Paksa Netanyahu Hentikan Kekerasan Pemukim Yahudi
TEL AVIV, iNews.id - Ratusan mantan pejabat militer, diplomat, dan intelijen Israel meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memaksa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
CIS meminta Trump untuk mengangkat isu selama pertemuan dengan Netanyahu di Gedung Putih, Selasa (28/7/2026) waktu setempat. Ini merupakan kunjungan ketujuh Netanyahu ke Gedung Putih selama masa jabatan periode kedua Trump sejak 2021.
Dalam surat yang diterbitkan Selasa, hampir 600 mantan pejabat militer Israel mendesak Trump untuk membantu mengakhiri malapetaka terkait meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. Mereka khawatir meningkatnya kekerasan akan berdampak terhadap keamanan Israel, AS, hingga negara-negara di kawasan.
Mereka juga menyebut Trump sebagai satu-satunya orang yang mampu memaksa Netanyahu.
“Kecuali dihentikan dengan cepat dan tegas, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat siap menyulut konflik di kawasan dan memberikan dampak serius bagi keamanan Israel dan kepentingan regional AS,” demikian isi surat yang ditulis kelompok lobi Commanders for Israel’s Security (CIS), seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).
“Menurut penilaian profesional kami, tidak ada seorang pun selain Anda, Bapak Presiden, yang bisa mencegah malapetaka ini."
CIS merupakan gerakan Zionis beranggotakan lebih dari 550 purnawirawan kolonel dan jenderal Israel, serta pangkat setara lainnya di badan intelijen Mossad, Shin Bet, Kepolisian Israel, dinas luar negeri, dan korps lainnya.
Misi yang dituju kelompok tersebut adalah mengamankan masa depan Israel sebagai rumah demokrasi yang kuat bagi bangsa Yahudi.
CIS juga menulis, bukan rahasia lagi anggota pemerintah tertentu sengaja membuat kekacauan tersebut, termasuk melindungi para pemukim dan pasukan Israel dari jeratan hukum.
“Peningkatan aktivitas teror pemukim Yahudi berisiko menimbulkan konsekuensi yang mungkin terbukti lebih dahsyat daripada serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel dan dampaknya di berbagai front," demikian isi surat.
Surat tersebut muncul di tengah meluasnya kekerasan para pemukim ilegal Israel di seluruh Tepi Barat, terutama selama akhir pekan. Di Kota Tal terjadi baku tembak mematikan yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.










