Bakom Bantah Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN gegara Tekanan Hukum

Bakom Bantah Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN gegara Tekanan Hukum

Terkini | inews | Rabu, 22 Juli 2026 - 14:32
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI membantah pengunduran diri Nanik S Deyang dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena tekanan hukum. Nanik telah menyampaikan kesehatan sebagai alasan mundur dari posisinya.

"Saya rasa sudah tegas apa yang disampaikan oleh Bu Nanik. Alasannya adalah alasan kesehatan. Itu disebutkan di dalam keterangan secara terang benderang," ujar Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Kurnia berharap, masyarakat memberikan respons empati terhadap Nanik. Hal ini dengan mendoakan agar Nanik bisa pulih dari sakit yang diderita.

"Tentu alasan itu harusnya yang pertama kali kita lihat di sana adalah rasa empati dan mendoakan beliau agar segera pulih dari sakit yang beliau derita selama ini," tuturnya.

Bakom RI juga menghormati dan menghargai keputusan Nanik untuk mengundurkan diri. Pemerintah juga memastikan bahwa perbaikan tata kelola kelembagaan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan terus berjalan.

"Badan komunikasi menghormati dan menghargai keputusan Ibu Nanik untuk mundur sebagai kepala BGN karena alasannya memang alasan tentang kesehatan," kata dia.

Sebelumnya, Nanik S Deyang mengumumkan mundur dari jabatan Kepala BGN melalui unggahan di akun Facebook pribadinya. Dia menyatakan telah berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menjalani pengobatan jantung di luar negeri guna memperoleh second opinion.

Nanik juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo karena harus mengundurkan diri demi fokus pada pemulihan kesehatannya. 

"Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya. Rencananya hari ini, Rabu (22/7), saya berangkat," tulis Nanik.

Dia menegaskan, keputusan menjalani pengobatan di luar negeri bukan karena meragukan kualitas tenaga medis di Indonesia, melainkan untuk mendapatkan pendapat medis kedua (second opinion).

"Ini bukan karena tidak percaya dokter yg hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju," tuturnya.

Topik Menarik