AS-Iran Kembali Saling Serang, Teheran Klaim Tutup Selat Hormuz dan Hantam Pangkalan Militer AS
TEHERAN, iNews.id - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa jam terakhir. Di tengah eskalasi tersebut, Iran mengeklaim menutup Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan, sementara AS menegaskan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka.
Dilansir dari BBC, Senin (13/7/2026), serangan terbaru dilancarkan militer AS pada Minggu malam, 12 Juli 2026, waktu setempat. Komando Pusat Militer AS (Centcom) mengatakan, operasi dimulai pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS dan menyasar puluhan target militer Iran.
Menurut Centcom, sasaran serangan mencakup sistem pertahanan udara, radar pantai, serta fasilitas rudal dan drone Iran. Militer AS menegaskan operasinya bertujuan memastikan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal niaga di Selat Hormuz di tengah indakan agresif Iran.
Sesaat sebelum pengumuman Centcom, televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di Sirik, Qeshm, Bandar Abbas, dan Jask.
Sementara Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip Wakil Gubernur Khuzestan Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum Valiollah Hayati menyebutkan, serangan AS pada Senin pagi menyebabkan satu orang tewas dan empat lainnya terluka di wilayah barat daya Iran.
Tak lama setelah serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.
Serangan balasan Iran menandai perluasan konflik yang sebelumnya juga menyasar negara-negara sekutu AS di kawasan. Target Iran termasuk Qatar, mediator perundingan gencatan senjata dengan AS dan belum pernah menjadi sasaran sejak April, serta Uni Emirat Arab (UEA), yang terakhir kali diserang pada Mei. Hingga kini, Centcom belum memberikan tanggapan atas laporan serangan terhadap pangkalan AS di Yordania.
Eskalasi terbaru itu meningkatkan ancaman terhadap kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani pada Juni lalu. Perjanjian tersebut bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi langkah awal menuju penghentian konflik secara permanen.
Perselisihan juga terjadi terkait status Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran mengatakan, jalur tersebut ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Sebaliknya, AS menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka dan militernya siap memastikan arus pelayaran komersial tetap berlangsung.
Sebelumnya, tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz. Langkah itu langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Dampaknya mulai terlihat di pasar. Pada perdagangan Asia, Senin, harga minyak mentah Brent melonjak 4,3 persen menjadi 79,26 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah acuan AS juga naik 4,3 persen ke level 74,50 dolar AS per barel. Meski demikian, harga minyak saat ini masih berada di bawah puncaknya yang sempat menembus 120 dolar AS per barel pada akhir April.
Ketegangan kedua negara telah meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu malam, Centcom mengeklaim telah menyerang sekitar 140 target militer Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran melalui operasi terhadap pangkalan militer AS dan negara-negara sekutunya di kawasan.
Saling serang ini juga memperburuk prospek diplomasi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan serangan Iran menandai berakhirnya gencatan senjata. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Washington sebagai pihak yang lebih dulu melanggar kesepakatan.
Meski demikian, Trump mengatakan jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Menurut dia, pembicaraan masih akan dilanjutkan dan para mediator terus berupaya menghidupkan kembali proses perundingan.










