Terungkap, AS Sempat Desak Israel Tak Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran

Terungkap, AS Sempat Desak Israel Tak Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran

Terkini | inews | Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:53
share

WASHINGTON, iNews.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan sempat mendesak Israel agar tidak melanjutkan rencana pembunuhan terhadap Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada April lalu. Washington khawatir langkah tersebut akan menggagalkan perundingan damai dan memicu kembali pecahnya perang.

Laporan surat kabar The New York Times (NYT), mengutip keterangan sumber pejabat, mengungkap pemerintahan Presiden Donald Trump mengetahui kedua pejabat senior Iran itu masuk dalam daftar target Israel saat negosiasi gencatan senjata mencapai tahap krusial pada April lalu. Karena itu, AS meminta pemerintahan Zionis agar tidak meneruskan rencana tersebut.

Mengutip sejumlah pejabat AS dan Iran, NYT melaporkan Israel diduga telah menyusun rencana untuk membunuh para negosiator utama Iran pada musim semi tahun ini. Araghchi dan Ghalibaf disebut menjadi target utama ketika pembicaraan gencatan senjata berlangsung. Diketahui, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 7 April.

Menurut para pejabat AS, motif di balik rencana pembunuhan itu adalah menggagalkan kesepakatan gencatan senjata sehingga konflik bersenjata kembali berkobar.

Pemerintahan Trump juga dilaporkan meminta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah memperingatkan Iran untuk waspada mengenai kemungkinan ancaman terhadap para pejabat yang terlibat dalam perundingan tersebut.

Di sisi lain, Iran meminta jaminan kepada AS melalui mediator Pakistan dan Qatar bahwa Israel tidak akan menargetkan tim negosiatornya selama proses perundingan berlangsung.

Sementara itu, pejabat Kedutaan Besar Israel di AS menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Sementara itu seorang pejabat AS mengatakan, proses perundingan antara delegasi Washington dan Teheran masih terus berlangsung. Presiden Donald Trump, lanjut dia, tetap menginginkan proses perdamaian berjalan sesuai rencana hingga menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.

AS dan Iran akan memasuki perundingan lanjutan setelah menandatangani MoU perjanjian damai selama 60 hari pada 17 Juni lalu. Negosiasi lanjutan membahas isu-isu sensitif yang belum disepakati dalam MoU, seperti program nuklir serta nsaib Selat Hormuz.

Topik Menarik