Inflasi Juni 2026 Tembus 0,44, Kenaikan Harga BBM dan Tiket Pesawat jadi Pemicu
JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi domestik pada Juni 2026 berada di level 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,79 persen (year-to-date/ytd) dan inflasi secara tahunan menyentuh posisi 3,34 persen (year-on-year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, pemicu lonjakan inflasi bulanan pada Juni kali ini berasal dari kelompok transportasi. Sektor mobilitas publik ini mencatatkan inflasi yang cukup tinggi, yakni sebesar 2,29 persen, dengan memberikan andil dominan terhadap inflasi nasional sebesar 0,28 persen.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok transportasi yang pertama bensin andil 0,21 persen, yang kedua tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,05 persen, dan yang ketiga pelumas atau oli mesin andil 0,01 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ateng menjelaskan lebih rinci bahwa pembentuk angka inflasi pada bulan ini didorong naiknya harga bensin, fluktuasi tarif angkutan udara, hingga pergeseran harga pelumas atau oli mesin.
BPS menjelaskan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi oleh badan usaha memberikan dampak signifikan terhadap inflasi.
Di sisi lain, lonjakan biaya pada sektor penerbangan sipil dipengaruhi oleh faktor musiman. Kenaikan harga tiket pesawat komersial terjadi akibat meningkatnya permintaan tiket pesawat bertepatan dengan momentum periode libur sekolah anak-anak.
"Sementara itu, kenaikan tarif angkutan udara didorong meningkatnya permintaan seiring periode libur sekolah," imbuh Ateng.
Di luar sektor transportasi dan bahan bakar, pergerakan inflasi nasional juga mendapat pasokan tekanan dari kelompok bahan pangan.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan tingkat inflasi sebesar 0,20 persen denganmemberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,06 persen.
Komoditas pangan yang menjadi pemicu utama kenaikan harga di pasar tradisional didominasi oleh sektor bumbu dapur dan makanan pokok akibat terganggunya pasokan.
"Komoditas kelompok ini memberikan andil terutama bawang merah andil 0,04 persen, bawang putih andil 0,03 persen dan beras andil 0,02 persen," pungkas Ateng.










