Wajib Tahu! Ini 8 Risiko Operasi Pita Suara seperti Dilakukan Lucinta Luna
JAKARTA, iNews.id – Selebgram Lucinta Luna mengungkapkan telah menjalani operasi pita suara demi mendapatkan suara yang lebih feminin. Pengakuan tersebut disampaikan saat melakukan siaran langsung di TikTok.
Lucinta Luna mengatakan bahwa dia telah melewati masa pemulihan selama sekitar tiga bulan usai menjalani prosedur tersebut. Apa alasan di balik keputusan besar tersebut?
Menurutnya, salah satu alasan menjalani operasi pita suara adalah untuk mempermudah aktivitasnya saat bepergian ke luar negeri. Dia berharap perubahan karakter suaranya dapat mengurangi kendala saat menjalani pemeriksaan imigrasi.
"Jadi nanti kalau aku jalan-jalan ke luar negeri, aku nggak dicegat lagi sama imigrasi,” ujar Lucinta, dikutip Senin (29/6/2026).
Tak hanya itu, perempuan yang dikenal dengan berbagai transformasi penampilannya tersebut menganggap operasi pita suara sebagai simbol perubahan dalam hidupnya.
Dia ingin memulai lembaran baru dengan suara yang lebih lembut dan berencana menetap di luar negeri agar dapat menjalani kehidupan yang lebih tenang. Lucinta juga mengaku akan lebih membatasi aktivitasnya di media sosial dan tidak lagi terlalu sering membagikan kehidupan pribadinya kepada publik.
Terlepas dari itu, keputusan menjalani operasi pita suara seperti dilakukan Lucinta Luna sangat sarat akan risiko kesehatan. Ya, operasi pita suara untuk menghasilkan suara yang lebih feminin bukanlah prosedur tanpa risiko.
Menurut Mayo Clinic, prosedur yang dikenal sebagai voice feminization surgery bertujuan mengubah karakter suara menjadi lebih tinggi dan terdengar lebih feminin. Meski umumnya aman bila dilakukan oleh dokter spesialis THT yang berpengalaman, tindakan ini tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami calon pasien.
Berikut delapan risiko operasi pita suara yang perlu diketahui. Simak berita selengkapnya hanya di artikel ini.
8 Risiko Operasi Pita Suara untuk Hasilkan Suara Lebih Feminin
1. Perubahan suara tidak sesuai harapan
Operasi tidak selalu menghasilkan suara yang diinginkan. Setelah tindakan, suara bisa terdengar serak, kasar, terlalu pelan, atau justru terdengar tidak alami. Pada sebagian kasus, perubahan tersebut bahkan dapat bersifat permanen.
2. Terbentuknya jaringan parut pada pita suara
Operasi dapat memicu terbentuknya jaringan parut (vocal fold scarring) yang mengurangi elastisitas pita suara. Kondisi ini dapat menyebabkan kualitas suara menurun, suara terdengar kaku, hingga kesulitan mencapai nada tertentu.
3. Suara cepat lelah
Sebagian pasien mengalami vocal fatigue atau suara yang mudah lelah saat berbicara dalam waktu lama. Keluhan ini umumnya membaik seiring proses penyembuhan, tetapi pada beberapa orang dapat berlangsung lebih lama.
4. Perdarahan
Perdarahan merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi selama maupun setelah operasi. Meski jarang, kondisi ini harus segera ditangani karena berpotensi mengganggu saluran napas.
5. Infeksi
Risiko infeksi tetap ada setelah operasi. Gejalanya dapat berupa demam, nyeri yang semakin berat, pembengkakan pada area tenggorokan, hingga proses penyembuhan yang lebih lambat.
6. Cedera saraf pita suara
Pada kasus tertentu, operasi dapat menyebabkan cedera pada saraf yang mengendalikan pergerakan pita suara. Dampaknya meliputi suara serak berkepanjangan, gangguan menelan, hingga kelumpuhan pita suara yang dapat memengaruhi pernapasan.
7. Gangguan menelan
Sebagian pasien mengalami kesulitan menelan (disfagia) selama masa pemulihan. Dalam kondisi yang lebih serius, makanan atau minuman dapat masuk ke saluran napas (aspirasi) sehingga meningkatkan risiko pneumonia aspirasi.
8. Gangguan pernapasan
Pembengkakan pascaoperasi atau gangguan fungsi pita suara dapat menyebabkan sesak napas. Meski tergolong jarang, komplikasi ini membutuhkan penanganan medis segera karena dapat menghambat jalan napas.
Untuk membantu meminimalkan risiko komplikasi, pasien umumnya dianjurkan menjalani voice rest atau istirahat suara sesuai anjuran dokter, menghindari merokok dan konsumsi alkohol, menjaga tubuh tetap terhidrasi, serta mengikuti terapi suara apabila direkomendasikan.
Kepatuhan terhadap perawatan pascaoperasi menjadi salah satu faktor penting untuk memperoleh hasil operasi yang optimal sekaligus menjaga kualitas suara dalam jangka panjang.










