Prabowo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah: Karena Kekayaannya Keluar

Prabowo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah: Karena Kekayaannya Keluar

Terkini | inews | Selasa, 23 Juni 2026 - 16:16
share

JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto menilai salah satu penyebab pelemahan nilai tukar rupiah karena besarnya kekayaan Indonesia yang terus mengalir ke luar negeri. Hal ini disampaikan Kepala Negara saat sambutan pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar,” ucap Prabowo.

Prabowo mengibaratkan kondisi tersebut seperti tubuh manusia yang kehilangan darah secara terus-menerus hingga akhirnya mengalami kolaps. 

“Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati. Begitu kayanya republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri saudara-saudara sekalian,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menjelaskan bahwa berdasarkan data selama 22 tahun terakhir nilai dana yang keluar dari Indonesia mencapai 343 miliar dolar AS. Sementara keuntungan yang diperoleh mencapai 436 miliar dolar AS, sehingga porsi kekayaan yang benar-benar tinggal di dalam negeri dinilai masih sangat kecil. 

“Jadi kita lihat dari neraca itu, inflow, outflow. Kita lihat di sini selama 22 tahun uang yang keluar itu 343 miliar. Jadi keuntungan 436, yang keluar 343. Yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar. Ini angka di depan, di depan kita saudara-saudara sekalian,” ujarnya.

Selain itu, Kepala Negara turut menyoroti praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Menurutnya, praktik tersebut menyebabkan kerugian besar bagi negara karena sebagian penerimaan tidak tercatat secara benar.

 “Apa yang harus kita ambil kesimpulan? Ternyata sekali lagi dari PBB, yang terjadi adalah yang disebut under-invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” tuturnya.

Prabowo pun membeberkan bahwa Indonesia diperkirakan mengalami kerugian hingga 908 miliar dolar AS dalam kurun waktu 34 tahun. Nilai tersebut setara sekitar Rp15.000 triliun. 

“Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun atau 15.000 triliun. 15.000 triliun! Saudara-saudara ini semua data keluar,” kata dia.

Topik Menarik