Konsumen Pertamax Berpotensi Beralih ke Pertalite, Komisi VI DPR bakal Rapat dengan Pertamina

Konsumen Pertamax Berpotensi Beralih ke Pertalite, Komisi VI DPR bakal Rapat dengan Pertamina

Berita Utama | inews | Minggu, 14 Juni 2026 - 11:33
share

JAKARTA, iNews.id - Komisi VI DPR berencana melakukan rapat dengan PT Pertamina (Persero) terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax. Salah satu yang dibahas yakni potensi peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan stok BBM bersubsidi. 

Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Adisatrya Suryo Sulisto menilai, kondisi tersebut harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.

“Kami juga akan meminta penjelasan dari Pertamina terkait dampaknya terhadap kinerja perseroan dan kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Jangan sampai nanti masyarakat beralih secara besar-besaran ke Pertalite, lalu muncul masalah baru berupa keterbatasan stok yang justru menyulitkan masyarakat,” kata Adisatrya, dikutip Minggu (14/6/2026).

Dia menilai kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi tidak dapat dilepaskan dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Menurutnya, konflik geopolitik yang berkepanjangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak menjadi faktor yang membebani pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi. 

“Dengan situasi global perang berkepanjangan dan nilai tukar rupiah yang juga sedang melemah, sementara minyak kita masih impor, tentu ini menjadi beban bagi pemerintah sehingga untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi sangat berat dan pada akhirnya harus dilakukan penyesuaian,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengingatkan kenaikan harga BBM akan membawa konsekuensi terhadap berbagai sektor usaha. Biaya logistik yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen. 

“Logistik adalah komponen utama dalam kegiatan usaha. Ketika BBM naik, biaya distribusi juga meningkat. Dampaknya, harga-harga ke konsumen juga bisa ikut naik. Karena itu kami berharap inflasi tetap dapat dijaga,” katanya.

Adisatrya mengatakan, Komisi VI akan terus mencermati dampak kebijakan tersebut terhadap sektor usaha, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Pasalnya, kenaikan biaya operasional jangan sampai berdampak pada penurunan produktivitas usaha maupun memicu pemutusan hubungan kerja.

“Kami berharap terutama sektor UKM tidak terkena dampak yang terlalu besar. Jangan sampai biaya usaha meningkat lalu berujung pada pengurangan tenaga kerja atau bahkan pemberhentian pekerja,” katanya.

Sebelumnya, berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Topik Menarik