Terungkap! Ini Motif Bupati Muara Enim Edison Suap BPK Rp1,6 Miliar
JAKARTA, iNews.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya membongkar motif di balik aksi nekat Bupati Muara Enim, Edison, yang diduga menyuap pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebesar Rp1,6 miliar. Uang miliaran rupiah tersebut digelontorkan demi mengondisikan dan merekayasa Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) keuangan Pemkab Muara Enim.
Plt Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein mengungkapkan, suap tersebut terpaksa dilakukan karena hasil audit BPK menemukan adanya kejanggalan yang sangat fatal.
"Suap diduga diberikan lantaran hasil audit BPK mendapati nilai melebihi batas materialitas dalam LHP keuangan Pemkab Muara Enim," kata Taufik saat konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Achmad Taufik Husein mengatakan Edison, diduga memerintahkan bawahannya untuk mengurus hal tersebut dengan menemui Augusz Dewanggara atau Angga (ANG) selaku pihak swasta.
"AGG kemudian menyampaikan kebutuhan fee untuk mengubah hasil audit sekitar Rp1,6 miliar atau diambil dari 1 persen pagu anggaran pekerjaan infrastruktur atau 2 persen pagu anggaran pengadaan dari Pemkab Muara Enim," kata Taufik.
Angga kemudian berkoordinasi dengan Titin Rita Lestari (TTN) selaku Pengendali Teknis untuk menindaklanjuti pengubahan hasil audit BPK tersebut.
Untuk memenuhi permintaan Rp1,6 miliar itu, anak buah Edison menyiapkan uang yang bersumber dari Fika (FK) selaku Direktur PT Millenium Solusi Abadi dan Cory Erin Hardi (CRH) selaku marketing PT Millenium Solusi Abadi yang merupakan pihak penyedia PBJ proyek smart board di lingkup Disdikbud Muara Enim.
"Bahwa dari penerimaan sejumlah Rp500 juta tersebut, ABN (Abi Nurwardani selaku Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) membagi dua klaster distribusi uang, di Jakarta dan Sumatera Selatan. Dimana sebesar sekitar Rp100 juta untuk AGG dan Rp100 juta untuk MYN (Mulyono selaku perantara) sebagai perantara pertemuan di Jakarta," ujarnya.
"Sementara sejumlah sekitar Rp300 juta diserahkan oleh ABN ke Sumatera Selatan yang diantaranya untuk EDS," ucapnya.
Taufik melanjutkan, Angga juga diduga menerima uang Rp50 juta dari Abi. KPK masih mendalami penerimaan tersebut.
Diketahui, KPK menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap laporan keuangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Penetapan tersangka ini terkait operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan BPK pada Rabu (10/6/2026).
"Berdasarkan kecukupan alat bukti dalam dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah janji oleh penyelenggara negara atas audit laporan keuangan oleh BPK di Pemkab Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Tahun Anggaran 2025, KPK kemudian menetapkan lima orang tersangka," kata Taufik.










