Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Penyakit dari DBD hingga Pernapasan

Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Penyakit dari DBD hingga Pernapasan

Berita Utama | inews | Selasa, 9 Juni 2026 - 18:24
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026 dan berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan musim kemarau berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), polusi udara, serta munculnya berbagai penyakit yang dipengaruhi perubahan cuaca dan lingkungan. 

“Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), polusi udara, dan munculnya berbagai penyakit yang dipengaruhi oleh perubahan cuaca dan lingkungan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau,” demikian imbauan Kemenkes yang dikutip pada Selasa (9/6/2026).

Kemenkes mengungkapkan sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau. Penyakit tersebut antara lain demam berdarah dengue (DBD) dan malaria yang ditularkan melalui nyamuk, serta penyakit yang muncul akibat menurunnya kualitas air dan sanitasi seperti diare, kolera, tifoid, dan leptospirosis.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai gangguan kesehatan akibat polusi udara, seperti iritasi mata, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Cuaca panas yang ekstrem juga dapat memicu dehidrasi berat hingga heat stroke, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta.

Untuk mengurangi risiko penyakit, masyarakat disarankan rutin memantau kualitas udara, menggunakan masker saat kondisi udara memburuk, memperbanyak konsumsi air putih, serta menghindari minuman beralkohol dan berkafein berlebihan. Menghindari paparan asap rokok dan sumber polusi lainnya juga dinilai penting selama musim kemarau berlangsung.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menutup ventilasi rumah saat tingkat polusi meningkat. Di samping itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat serta pemberantasan sarang nyamuk perlu dilakukan secara rutin guna mencegah meningkatnya kasus penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Apabila mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan cuaca panas, polusi udara, atau penyakit lain yang muncul selama musim kemarau, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Topik Menarik