Banyak Pasien Kanker Tak Nafsu Makan Setelah Didiagnosis, Ini Dampaknya

Banyak Pasien Kanker Tak Nafsu Makan Setelah Didiagnosis, Ini Dampaknya

Gaya Hidup | inews | Minggu, 24 Mei 2026 - 20:02
share

JAKARTA, iNews.id - Banyak pasien kanker mengalami penurunan nafsu makan setelah didiagnosis mengidap penyakit tersebut. Kondisi ini ternyata dapat berdampak serius terhadap kesehatan tubuh dan memperburuk kondisi pasien.

Dalam pemaparan mengenai nutrisi pasien kanker, Dokter Spesialis Gizi Klinis dr Fiastuti Witjaksono, Sp.GK (K) mengatakan, diagnosis kanker sering membuat pasien mengalami depresi, stres, hingga kehilangan selera makan. Padahal, di saat yang sama tubuh justru membutuhkan lebih banyak energi dan nutrisi untuk melawan penyakit serta menjalani terapi.

"Begitu diagnosis kanker dibuat, banyak pasien langsung tidak bisa makan karena depresi dan sebagainya," ungkap dr Fiastuti  dalam sesi simposium bertajuk 'Supportive Care in Cancer' dalam Siloam Oncology Summit 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Minggu (24/5/2026).

Efek samping pengobatan seperti kemoterapi dan radioterapi juga memperburuk kondisi tersebut. Pasien sering mengalami mual, muntah, hingga kesulitan menelan, terutama pada kanker kepala dan leher.

Akibatnya, banyak pasien mengalami penurunan berat badan dan kehilangan massa otot. Bahkan, sekitar 50 persen pasien kanker jatuh dalam kondisi malnutrisi sejak awal diagnosis.

Dokter mengingatkan kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat berkembang menjadi kaheksia, yakni penyusutan otot berat yang berkaitan dengan tingginya angka kematian pasien kanker.

Karena itu, pasien dianjurkan segera menjalani skrining nutrisi dan mendapatkan dukungan nutrisi sedini mungkin agar kondisi tubuh tetap terjaga selama pengobatan.

Lebih lanjut, dr Fiastuti menerangkan bahwa banyak pasien mengalami kesulitan makan akibat mual, muntah, gangguan menelan, hingga efek kemoterapi dan radioterapi.

Karena itu, dokter sering menyarankan oral nutrition supplement (ONS) atau suplemen nutrisi oral untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein pasien.

"Walaupun bahan dasarnya susu, itu bukan susu biasa. Dia adalah makanan pengganti dengan kandungan nutrisi yang sudah dirancang khusus," ujar dr Fiastuti.

Menurutnya, susu UHT biasa tidak cukup memenuhi kebutuhan makronutrien pasien kanker, terutama protein dan lemak yang dibutuhkan selama terapi.

Kini tersedia berbagai jenis oral nutrition supplement, mulai dari formula tinggi protein, mengandung omega-3, whey protein, hingga nutrisi khusus untuk mencegah kaheksia atau penyusutan massa otot pada pasien kanker.

Dokter menyebut ONS lebih praktis dikonsumsi pasien karena berbentuk cair dan mudah diminum, terutama bagi pasien yang sulit mengonsumsi makanan padat.

Selain membantu menjaga berat badan, dukungan nutrisi yang tepat juga dinilai dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan membantu tubuh lebih kuat menjalani pengobatan kanker.

Topik Menarik