GRIB Jaya Bantah Intimidasi Ilma Sani: Memutar Balik Fakta demi Cari Simpati

GRIB Jaya Bantah Intimidasi Ilma Sani: Memutar Balik Fakta demi Cari Simpati

Berita Utama | inews | Jum'at, 22 Mei 2026 - 16:53
share

JAKARTA, iNews.id - Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya membantah tudingan intimidasi terhadap anak penulis dan pegiat media sosial Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana. GRIB menyebut narasi dugaan intimidasi hingga pembawaan paksa ke kantor organisasi sebagai kebohongan yang tidak berdasar.

Kepala Bidang Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya Marcel Gual mengatakan, kedatangan anggota Satgas GRIB Jaya ke rumah Ahmad Bahar dilakukan secara terbuka dan melibatkan aparat lingkungan serta kepolisian.

“Fakta lapangan, kedatangan Satgas GRIB Jaya ke kediaman Ahmad Bahar dilakukan secara terbuka, tertib, serta didampingi langsung oleh ketua RW setempat dan pihak kepolisian,” kata Marcel dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Dia menegaskan, tudingan adanya intimidasi, penculikan, maupun tindakan premanisme tidak masuk akal jika dilakukan di bawah pengawasan aparat.

“Kehadiran ketua RW dan kepolisian menjadi bukti autentik bahwa proses tersebut berjalan persuasif, transparan, dan di bawah pengawasan otoritas wilayah demi menjembatani klarifikasi,” kata dia.

Marcel juga membantah tudingan bahwa Ilma Sani disandera atau mendapat tekanan verbal di kantor DPP GRIB Jaya. Menurut dia, pertemuan berlangsung di ruang terbuka dan disaksikan banyak orang.

“Fakta lapangan, ketika berada di kantor DPP, anak Ahmad Bahar ditanyakan secara langsung di ruang publik/terbuka, disaksikan oleh banyak orang (termasuk tamu-tamu GRIB yang hadir), serta didampingi secara melekat oleh ketua RW-nya untuk memastikan keamanan yang bersangkutan,” ujar dia.

Dia menilai narasi trauma psikologis yang disampaikan pihak Ahmad Bahar merupakan upaya menggiring opini publik. Marcel justru menuding keluarga Hercules menjadi korban akibat konten digital yang dibuat Ahmad Bahar.

“Fakta serangan digital, konten kebencian yang diproduksi Ahmad Bahar tidak hanya menyerang figur Pak Hercules secara personal, tetapi sudah menyasar ranah domestik dengan melakukan doxing (penyebaran informasi pribadi secara ilegal) terhadap istri Pak Hercules,” ujarnya.

Menurut Marcel, dampak dari penyebaran informasi pribadi tersebut membuat istri Hercules mengalami trauma berat.

“Akibat dari penyebaran informasi pribadi dan narasi rendahan tersebut, istri Pak Hercules mengalami trauma berat. Tindakan doxing ini adalah pelanggaran privasi serius yang nyata-nyata mengintimidasi ruang aman sebuah keluarga,” imbuh dia.

Dia juga menyebut Ahmad Bahar sebelumnya aktif menantang Hercules untuk berdebat secara terbuka. Namun saat hendak ditemui untuk klarifikasi, Ahmad Bahar disebut tidak berada di tempat.

“Namun, ketika hendak ditemui untuk bertabayun dan meminta pertanggungjawaban atas trauma yang menimpa istri Pak Hercules, Ahmad Bahar justru bersikap tidak gentleman dengan bersembunyi dan kabur dari tempat,” katanya.

Marcel memastikan persoalan tersebut telah dimediasi secara damai di Polres Metro Depok. Dia mengatakan Ahmad Bahar juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada Hercules.

“Bahkan, Ahmad Bahar sendiri telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Pak Hercules atas kesalahpahaman konten dan pesan-pesan ancaman yang dia buat,” kata dia.

"Sangat disayangkan jika pascamediasi resmi, pihak keluarga Ahmad Bahar justru terus memproduksi narasi liar dan memutarbalikkan fakta lapangan demi mencari panggung simpati. Korban pertama dan utama dari lingkaran konflik ini adalah keluarga Pak Hercules, khususnya sang istri, yang privasi dan ketenangannya dirampas terlebih dahulu oleh konten tidak bertanggung jawab Ahmad Bahar," katanya.

Sebelumnya, Ilma Sani Fitriana mengadu ke Komnas HAM terkait dugaan intimidasi oleh Hercules dan anggota GRIB Jaya. Dia mengaku dipaksa melepas jilbab, ditodong senjata api hingga mendengar ancaman terhadap ayahnya.

“Beliau tidak percaya, akhirnya bilang, 'kamu ini gimana sih, kamu kan perempuan kamu harusnya berbuat baik, copot saja itu jilbab kamu'. Saya merasa tidak adil diperlakukan seperti ini, 'Kalau misalnya bapak kamu ada di sini sudah saya telanjangin bapak kamu, nanti biar kamu yang videokan',” ujar Ilma di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Topik Menarik