Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp17.529 per Dolar AS

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp17.529 per Dolar AS

Terkini | inews | Selasa, 12 Mei 2026 - 16:14
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). Rupiah anjlok 115 poin atau sekitar 0,66 persen ke level Rp17.529 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen pelemahan rupiah datang dari global terkait negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tampak rapuh.

Pasalnya, respons Teheran terhadap proposal AS menyoroti perbedaan mencolok yang membuat ketegangan kembali meningkat. Hal ini ditambah dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa gencatan senjata dengan Iran dalam kondisi kritis, menunjuk pada ketidaksepakatan atas beberapa tuntutan.

“Teheran juga menekankan kedaulatan atas Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Sementara, pemerintahan Trump mengumumkan rencana untuk meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) sebagai bagian dari upaya untuk meredam pasar minyak pada hari Senin.

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah dari SPR AS sedang dalam perjalanan ke Turki, menandai pengiriman pertama ke negara Mediterania tersebut.

Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden China Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke China.

Secara terpisah, Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa UEA melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. UEA belum secara terbuka mengakui serangan tersebut, menurut laporan itu.

Dari sentimen domestik, pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20. 

Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year to year). Kuartal I 2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.

Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi.

“Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai,” kata Ibrahim.

Kemudian, Presiden Prabowo telah menegur Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo karena mata uang tersebut berada di dekat rekor terendah sekitar Rp17.500 per dolar. 

Sentimen juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April, yang pertama dalam sembilan bulan, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.

Selain itu, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.520-Rp17.580 per dolar AS.

Topik Menarik