Pramono Ungkap Pemprov Rutin Bersihkan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta: Saya Minta Tak Diekspos
JAKARTA, iNews.id - Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan, pihaknya rutin membersihkan alias menangkap ikan sapu-sapu di sungai Jakarta. Pemusnahan ikan sapu-sapu bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.
"Tanpa teman-teman ketahui, untuk ikan sapu-sapu pun kita kemarin sudah ada gerakan untuk bersih-bersih kembali," ucap Pramono di Jakarta Timur, Jumat (8/5/2026).
Pramono menyampaikan, pemusnahan ikan sapu-sapu ini merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jakarta. Maka dari, kegiatan tersebut menurutnya merupakan pekerjaan rutin yang tidak terlalu penting untuk diekspos ke publik.
"Memang saya meminta sudah tidak terlalu diekspos karena yang begitu-begitu sudah menjadi pekerjaan rutinlah," ucap Pramono.
Sebelumnya, fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta akhirnya mulai terkuak. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, penyebab utama kondisi ini adalah terganggunya keseimbangan ekosistem, terutama minimnya predator alami.
Peneliti Ahli Muda BRIN, Triyanto, menjelaskan, dalam sistem ekologi, setiap spesies memiliki peran dan pengontrol alami dalam rantai makanan. Ketika salah satu komponen hilang, maka populasi spesies tertentu bisa melonjak drastis.
"Populasi predator alaminya harus seimbang juga yang mampu bisa mengontrol si ikan sapu-sapu ini," ujar Triyanto dalam diskusi di kantor BRIN, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).
Dia mengibaratkan kondisi ini seperti hubungan antara predator dan mangsa di alam liar. Jika predator menghilang, maka populasi mangsa akan berkembang tanpa kendali. Hal inilah yang kini terjadi pada ikan sapu-sapu di Jakarta.
Lebih lanjut, Triyanto menyoroti fakta bahwa ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia. Sebagai spesies invasif, ikan ini tidak memiliki musuh alami di ekosistem sungai lokal, sehingga mampu berkembang biak dengan sangat cepat dan mendominasi habitat.
"Karena dia memang bukan asli di Indonesia dan punya karakter unik, tetap harus ada campur tangan manusia sebagai manajerialnya," ujarnya.










