Tak Terima Dikritik soal Iran, Trump Serang Balik Jerman: Tak Heran Ekonominya Sulit
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan serangan balik pedas setelah dikritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait strategi menghadapi Iran. Trump bahkan menyindir kondisi ekonomi Jerman yang disebutnya tengah mengalami kesulitan, menyusul perbedaan pandangan tajam antara kedua pemimpin tersebut.
“Tidak heran Jerman mengalami kesulitan, baik secara ekonomi maupun lainnya,” ujarnya, dalam posting-an di akun Truth Social, dikutip Rabu (29/4/2026).
Trump juga menuduh Merz bersikap terlalu lunak terhadap Iran, bahkan seolah menoleransi negara tersebut memiliki senjata nuklir. Dia menegaskan pandangannya bahwa ancaman nuklir Iran tidak bisa dianggap remeh dan berpotensi menyandera dunia.
“Kanselir Jerman Friedrich Merz menganggap kepemilikan senjata nuklir Iran itu wajar,” tulis Trump.
Dia menambahkan, sikap tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh Teheran. Trump pun menegaskan langkah keras yang diambilnya justru menjadi contoh bagi negara lain.
Sebelumnya, Merz secara terbuka mengkritik strategi Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Dalam pernyataannya di hadapan para mahasiswa pada Senin lalu, dia menilai Washington kalah langkah dalam negosiasi dan tidak memiliki pendekatan yang cukup kuat untuk menekan Teheran.
Merz juga memuji kemampuan diplomasi Iran yang dianggap lebih matang dan efektif. Menurut dia, langkah-langkah yang diambil Teheran dalam perundingan justru menunjukkan keunggulan dibanding pendekatan yang dilakukan AS.
"Amerika tampaknya kekurangan strategi yang benar-benar meyakinkan untuk negosiasi," kata Merz.
Dia juga memperingatkan, mandeknya perundingan damai berpotensi menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Kondisi ini diperparah oleh sikap Iran yang tidak mau tunduk pada tekanan Washington.
Lebih jauh, Merz mengakui bahwa negara-negara Barat selama ini meremehkan kekuatan Iran. Dia menilai realitas di lapangan menunjukkan Iran jauh lebih tangguh, baik dalam menghadapi tekanan internasional maupun dalam strategi negosiasi.










