Awal Mula Oknum TNI Terlibat Pembunuhan Kacab Bank BUMN, Bos Bimbel Ternyata Cari Preman
JAKARTA, iNews.id - Keterlibatan oknum Kopassus TNI dalam kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta mulai terkuak. Hal ini bermula saat aktor intelektual, yang juga pengusaha bimbingan belajar (bimbel), Dwi Hartono meminta temannya untuk mencari sosok preman.
Hal itu disampaikan saksi bernama Yohanes Joko Pamuntas dalam sidang di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Senin (27/4/2026). Joko juga merupakan terdakwa pada klaster sipil dalam kasus yang sama, sekaligus teman dari Dwi Hartono.
Joko mengaku saat itu dihubungi oleh Dwi untuk mencari preman. Joko mengamini permintaan itu lantaran pernah melakukan hal yang sama untuk Dwi.
"Ditanya (Dwi) ada kenalan preman nggak, mungkin pertama karena saya (kerja) di parkir kan, kedua mungkin dulu pernah Pak waktu kuliah (ditanya) ada kenalan preman nggak. Ternyata pacarnya (Dwi) diganggu waktu kuliah, saya kira hal serupa," ujar Joko dalam kesaksiannya.
Saat itu, dirinya belum mengetahui untuk keperluan apa permintaan preman tersebut. Meski demikian, dia tetap mengamini permintaan temannya itu.
5 Pemain Timnas Indonesia yang Menggila saat Kalahkan Saint Kitts and Nevis, Nomor 1 Beckham Putra!
Joko menyebut dirinya kemudian teringat sosok Serka Mochamad Nasir. Nasir diakuinya merupakan tetangga tempat tinggalnya.
"Terus saya terbisit aja, terpikir cuma dengan terdakwa 1 (Nasir) karena kenal, tetangga," ujar dia.
Menurut Joko, Dwi Hartono kemudian meminta agar dipertemukan dengan Nasir. Mendapat arahan itu, Joko lantas menyampaikan pesan itu kepada Nasir.
"Om teman sepertinya ada masalah, ini bos saya. Terus dia (jawab), oh itu temanmu, gimana mintanya?" ujar Joko menirukan percakapannya dengan Nasir.
Singkatnya, Joko kemudian mempertemukan Nasir dengan Dwi Hartono di sebuah kafe di kawasan Kota Wisata Cibubur. Dari sanalah Dwi menyampaikan tugas-tugas kepada Nasir.
Menurut Joko, saat itu belum ada gambaran terkait penculikan maupun pembunuhan. Joko menyebut Dwi hanya meminta agar kacab bank bernama Ilham untuk dipertemukan dengan tim penjemput.
Dari sinilah keterlibatan dua anggota Kopassus lainnya yaitu Kopda Feri Herianto dan Serka Frengky Yaru. Ketiganya didakwa melakukan pembunuhan berencana atas perkara pembunuhan terhadap kacab bank bernama Mohamad Ilham Pradipta.
Jadi Salah Satu Lumbung Terbesar, Kementan Amankan Produksi Padi di Jawa Barat Jelang Kemarau
Oditur Militer menyusun dakwaan berlapis untuk tiga terdakwa ini. Dalam dakwaan utama, terdakwa didakwa melakukan pembunuhan berencana.
Apabila dakwaan tersebut tidak terbukti, jaksa menyiapkan dakwaan subsider berupa pembunuhan biasa, hingga dakwaan lebih ringan yakni penganiayaan yang menyebabkan kematian.










