Kisah PM Jepang Takaichi Nyaris Kehabisan Makanan tapi Dilarang Belanja: Selesai Sudah!

Kisah PM Jepang Takaichi Nyaris Kehabisan Makanan tapi Dilarang Belanja: Selesai Sudah!

Terkini | inews | Sabtu, 25 April 2026 - 08:05
share

TOKYO, iNews.id - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkap kisah tak biasa di balik kesibukannya memimpin negara. Dia mengaku pernah berada dalam situasi nyaris kehabisan makanan di kediaman dinas, sementara aturan protokoler melarangnya berbelanja atau bahkan memesan makanan secara online. 

“Saya tidak diperbolehkan belanja atau memesan makanan dari kediaman dinas. Jika saya kehabisan makanan, selesailah sudah semuanya,” katanya, pada Februari..

Kondisi tersebut mencerminkan tekanan sekaligus keterbatasan yang dihadapi Takaichi sejak menjabat. Selain harus bekerja tanpa henti, dia juga terikat aturan keamanan ketat yang membuat aktivitas sehari-hari, termasuk urusan makan, menjadi tidak fleksibel.

Kisah lain Takaichi mengeluhkan kurang tidur sejak dilantik sebagai perdana menteri 6 bulan silam. Cerita itu disampaikan Takaichi kepada politisi senior Akira Amari dalam pertemuan di kantor perdana menteri, Kamis (23/4/2026). 

Amari, yang juga dikenal sebagai orang dekat mendiang Shinzo Abe, membagikan kembali pengakuan tersebut ke publik. 

“Saya butuh tidur lebih banyak,” kata Amarai, menirukan pernyataan Takaichi , seperti dikutip dari Kyodo.

Sejak pindah ke kediaman dinas pada akhir 2025 bersama suaminya, perempuan 65 tahun itu berusaha memaksimalkan waktu untuk bekerja. Rumah dinas yang berlokasi dekat kantor seharusnya memudahkan mobilitas, namun justru memperlihatkan betapa padatnya aktivitas yang harus dijalani setiap hari.

Dalam rapat komite parlemen awal April lalu, Takaichi mengakui waktu tidurnya sangat terbatas. Dia menyebut sebagian waktunya tersita untuk urusan rumah tangga, sementara sisanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan negara.

Tak hanya itu, Takaichi juga berusaha membawa pekerjaan kantor ke rumah agar tidak membebani ajudan dan pengawal dengan jam kerja tambahan. Langkah ini justru membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Takaichi memenangkan kursi ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) pada Oktober 2025 yang mengantarkannya menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang. Dalam pidatonya saat itu, dia berjanji akan “kerja, kerja, kerja,” slogan yang kini benar-benar dia jalani, meski harus dibayar dengan kelelahan, kurang tidur, hingga kisah kehabisan makanan di rumah dinas.

Topik Menarik