Rosan Sebut Solusi Utang Whoosh Sudah Ada, Segera Negosiasi dengan China

Rosan Sebut Solusi Utang Whoosh Sudah Ada, Segera Negosiasi dengan China

Terkini | inews | Kamis, 23 April 2026 - 16:10
share

JAKARTA, iNews.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani memastikan pemerintah sudah memiliki solusi untuk menyelesaikan utang kereta cepat Jakarta - Bandung atau Whoosh. Nantinya, tim dari Indonesia akan bernegosiasi dengan China.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2022 yang diaudit RSM, proyek Whoosh menelan biaya 7,2 miliar dolar AS atau setara Rp124 triliun (kurs Rp17.280). Angka ini mencakup pembengkakan biaya sebesar 1,21 miliar dolar AS, dan investasi awal sebesar 6,06 miliar dolar AS.

"Waktu itu untuk Whoosh kita sudah meeting oleh Pak Menko Infra, Menkeu, dan kami, solusinya sudah ada. Itu akan ditindaklanjuti oleh tim untuk bicara dengan pihak China. Tapi solusinya sudah ada," ujar Rosan saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (23/4/2026).

Ia optimistis penyelesaian utang Whoosh dapat selesai dari hasil komunikasi dengan pihak China. Namun demikian, Rosan masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut terkait skema penyelesaian utang yang bakal dilakukan ke depan.

"Skema ini nanti akan disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra lah. Insyaallah ini bisa selesai lah," kata Rosan.

Sekedar informasi, beban utang whoosh menjadi tekanan berat bagi PT KAI (Persero). Sebab perusahaan ini menjadi pemegang saham mayoritas atas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang harus menanggung beban bunga utang saja sekitar Rp2 triliun per tahun.

Dihubungi secara terpisah, Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Toto Pranoto menjelaskan bahwa proyek kereta cepat yang menelan biaya 7,2 miliar dolar AS ini sekitar 75 persen merupakan hasil pinjaman dari China Development Bank (CDB) dengan suku bunga sekitar 3,5-4 persen.

"Kalau kita melihat total biaya investasi awal ditambah cost overrun itu kan hampir 7,2 miliar dolar AS (utang KCJB). Bahkan utang yang 75 persen dari CDB itu dengan bunga 3,5 sampai 4 persen, mereka (KCIC) harus bayar bunganya saja mungkin Rp2 triliun ya," ujarnya saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Belum lagi daya angkut penumpang harian yang tidak sesuai ekspektasi kajian awal ikut menekan pembukuan negatif untuk PT KCIC. Pada semester I 2025 lalu, PT KCIC dilaporkan masih menelan kerugian sekitar Rp1,6 triliun, menyusut dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp2,3 triliun.

"Jadi tidak mungkin juga pendapatan Whoosh dalam setahun itu bisa menutup itu. Sehingga memang di luar jangkauan PT KAI sebagai lead konsorsium," tutupnya.

Topik Menarik