Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah di Malaysia, Kemlu Pantau Kondisi WNI

Kebakaran Hebat Hanguskan 1.000 Rumah di Malaysia, Kemlu Pantau Kondisi WNI

Terkini | inews | Senin, 20 April 2026 - 13:12
share

JAKARTA, iNews.id - Kebakaran hebat menghanguskan 1.000 rumah dari 1.200 unit di wilayah Sandakan, Malaysia pada Minggu (19/4/2026) dini hari. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pun memantau kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) di lokasi tersebut.

“Kementerian Luar Negeri melalui KJRI Kota Kinabalu (KJRI KK) dan Dit. Pelindungan WNI terus memonitor perkembangan dan melakukan pendampingan penanganan insiden kebakaran di wilayah Sandakan, Malaysia,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Heni menjelaskan, hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa. Ia menerangkan, sejumlah warga yang dilaporkan mengalami luka ringan saat berupaya menyelamatkan harta bendanya.

Ia juga menyebutkan, mayoritas penghuni kawasan tersebut merupakan warga negara Malaysia, Filipina dan WNI yang menikah dengan warga negara Malaysia.

“Mayoritas penghuni kawasan merupakan warga negara Malaysia, warga negara Filipina, dan WNI yang menikah dengan warga negara Malaysia,” ujar dia.

KJRI bersama Direktorat Perlindungan WNI Kemlu RI melakukan langkah-langkah, mulai dari koordinasi intensif dengan otoritas setempat untuk memperoleh data akurat terkait jumlah dan kondisi WNI yang terdampak.

“Melakukan pemantauan langsung terhadap perkembangan situasi di lapangan, termasuk penanganan pengungsi dan distribusi bantuan. Menyiapkan fasilitasi dokumen keimigrasian bagi WNI terdampak yang kehilangan dokumen penting akibat kebakaran,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, para korban yang memerlukan bantuan juga sudah ditampung di lokasi penampungan dan ditangani oleh pihak terkait di Sandakan, Sabah.

“Saat ini, fokus utama Pemerintah adalah memastikan keselamatan dan pendataan seluruh WNI yang terdampak. Kementerian Luar Negeri mengimbau keluarga di Indonesia yang memiliki kerabat di kawasan tersebut untuk tetap tenang dan menunggu informasi resmi dari Pemerintah,” jelas dia.

Topik Menarik