Algoritma Konflik, Strategi dan Rekonstruksi Narasi Iran dalam Perang Melawan Amerika
Ahmad Setyono
Jurnalis, Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina
PRESS TV, jaringan televisi pemerintah Iran, pada 14 April 2026 memposting sebuah foto bayi yang baru lahir di Kampar, Riau, dan diberi nama Ali Khamenei. Konten ini sebenarnya bukan hal baru karena sebelumnya telah viral di media sosial dan diangkat luas oleh media-media nasional maupun internasional, pada pekan lalu. Tidak beberapa lama kemudian, akun bercentang biru @BRICSMonitor juga memposting konten serupa. Lantas, mengapa Press TV mengangkat konten ini kembali?
Bayi dan Truk Khamenei
Perwakilan Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Jakarta pada 7 April lalu mendatangi rumah sebuah keluarga di Kampar, Riau. Mereka menyampaikan apresiasi atas pemberian nama bayi yang baru lahir tersebut dengan Ali Khamenei. Orang tua bayi itu mengaku terinspirasi dari sosok Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang gugur dalam Perang AS-Israel vs Iran 28 Februari 2026.
Khamenei yang lahir di sebuah rumah sakit di Kampar pada 24 Maret 2026 itu sontak viral di media sosial. Media arus utama dan akun-akun media sosial Iran serta para pendukungnya kemudian mengkapitalisasi momentum ini ke berbagai platform.
Akun-akun Kedubes Iran di platform X di berbagai negara secara masif memposting konten tersebut.
Akun Iran Embassy in Indonesia 6 April di platform X juga memposting foto sebuah truk dengan gambar Ali Khamenei di bagian belakangnya, serta sebuah mobil yang melintas di kawasan Kuningan, Jakarta, yang memasang bendera Iran.
Dua hari kemudian, akun Kedubes Iran memposting video truk yang melintas di jalan dengan gambar besar Ali Khamenei.
Narasi dalam postingan tersebut cukup menarik. "In Indonesia, there’s an unwritten rule: when an image appears on the back of a truck, it means real support from the people. Now look what’s on the move.. IRAN The truckers’ movement in Indonesia is strongly standing with Iran. This isn’t just a picture — it’s the voice of the people."
Makna Persepsi Publik
The New York Times pada 9 April 2026 menulis artikel bertajuk How Iran’s Information War Machine Operates Online. Media terkemuka Amerika tersebut menguraikan bagaimana strategi Iran dalam membangun narasi dan persepsi publik, termasuk terkait penembakan pesawat tempur F/A-18 sebagai kemenangan militer mereka.
The New York Times merekonstruksi bagaimana Iran mampu menggunakan jaringan global yang eksplisit maupun implisit. Jaringan ini bersama dengan pihak-pihak yang tidak menyadari keterlibatannya, turut menyebarkan pesan tersebut melalui media sosial, platform berita yang berafiliasi dengan negara, hingga influencer Amerika.
Media tersebut mencatat, narasi penembakan pesawat F/A-18 berkembang dari satu unggahan menjadi konsumsi audiens global yang terdiri dari jutaan orang hanya dalam waktu 69 menit. Video tersebut dengan cepat meraih jutaan penayangan daring, menunjukkan bagaimana Iran mengeksploitasi ekosistem media global untuk menyebarkan citra kehebatan militernya.
Sejak video itu muncul, meski belum didukung bukti yang menunjukkan Iran menembak jatuh jet F/A-18 Amerika, jutaan orang telah mengonsumsi narasi tersebut, baik yang disebarkan secara sadar maupun tidak. "Pada saat bantahan resmi muncul," tulis perusahaan pemantau Alethea dalam sebuah analisis, "audiens di berbagai negara telah memproses cerita tersebut sebagai sesuatu yang telah dikonfirmasi," tulis the New York Times.
Iran tampak sangat memahami bagaimana persepsi publik terbentuk dalam memaknai perang melawan AS-Israel saat ini. Mereka membangun konstruksi narasi yang rapi, terukur, dan selaras dengan psikologi publik. Apalagi selama Maret, Iran diklaim berhasil menembak jatuh F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog.
Dalam perang modern, tak hanya bicara mesin perang. Di era digital, narasi dan persepsi menjadi elemen kunci untuk memenangkan perang. Satu alinea kata-kata atau video pendek 30 detik dapat menghasilkan resonansi yang menggema ke mana-mana dalam waktu singkat.
Framing: Konstruksi Realitas
Strategi Iran dalam menyebarkan narasi perang saat ini bisa dipahami melalui apa yang disebut Erving Goffman (1974) sebagai framing. Ia menjelaskan, individu mengorganisasi pengalaman dan memaknai realitas melalui "bingkai" (frame) kognitif. Framing bukan sekadar menyajikan informasi, melainkan bagaimana isu dikemas melalui pilihan kata, gambar, dan sudut pandang untuk menonjolkan aspek tertentu sekaligus mengabaikan yang lain.
Bayi yang diberi nama Ali Khamenei dan truk bergambar Khamenei di bagian belakangnya, dikemas sebagai narasi yang memiliki makna dan efek mendalam. Bagi Indonesia sebagai negera dengan populasi muslim terbesar di dunia, dua fakta tersebut sangat strategis untuk membuka ruang empati di tengah konflik.
Hal ini bisa dipahami dalam postingan Kedubes Iran terkait dua momen tersebut. "Di Indonesia, ada aturan tak tertulis: ketika sebuah gambar muncul di belakang truk, itu berarti dukungan nyata dari rakyat. Sekarang lihat apa yang sedang bergerak.. Gerakan truk di Indonesia secara kuat mendukung Iran. Ini bukan sekadar gambar — ini adalah suara rakyat."
Flyer yang menampilkan kedua orang tua di Riau menggendong bayi Khamenei dengan latar belakang mendiang Ayatullah Ali Khamenei serta foto bayi dengan papan namanya, diposting secara masif. Konten ini kemudian direpetisi dan diamplifikasi akun-akun yang terafiliasi maupun pendukung Iran. Tujuan strategisnya adalah membentuk opini, membangun persepsi, serta memperkuat legitimasi Iran sebagai korban agresi sehingga mereka harus didukung.
Analisis the New York Times bagaimana Iran merekonstruksi narasi penembakan pesawat F/A-18 Amerika melalui media sosial untuk memperkuat citra Iran bahwa kekuatan militernya mampu mengalahkan kekuatan militer terkuat dunia. Proses pembingkaian diaktualisasikan melalui pemilihan kata, simplifikasi topik, dan pemilihan simbol bahasa untuk mempermudah audiens memahami pesan sesuai konteks.
Menarik mencermati apa yang dikatakan Roberta Rivolta tentang strategi perang narasi Iran. Kampanye media Iran selama masa perang mampu menembus dominasi narasi Barat dengan berbicara langsung kepada audiens global yang lebih muda, dalam bahasa dan estetika budaya populer AS. Hal ini menandai pembalikan historis, di mana perangkat komunikasi yang digunakan Washington justru digunakan untuk melawannya.










