Detik-Detik Bayi 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran, Menangis Kedinginan Dibalut Aluminium Foil

Detik-Detik Bayi 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran, Menangis Kedinginan Dibalut Aluminium Foil

Terkini | inews | Senin, 13 April 2026 - 15:51
share

SEMARANG, iNews.id - Insiden mengerikan terjadi di Gunung Ungaran, Semarang. Seorang bayi berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia gegara diajak orang tuanya mendaki di cuaca ekstrem. 

Peristiwa ini viral di media sosial. Banyak netizen menghujat orang tua si bayi, karena begitu egois membawa anak sekecil itu mendaki gunung. Terlebih, di tengah cuaca yang sangat ekstrem. 

Untungnya, hipotermia yang dialami si bayi dapat tertangani segera oleh tim SAR yang bertugas di lokasi. Kini, kondisi si bayi dikabarkan mulai pulih, meski belum sehat total. 

Seperti apa detik-detik bayi 1,5 tahun mengalami hipotermia di Gunung Ungaran Semarang? Simak berita selengkapnya di artikel ini. 

Bayi 1,5 tahun mengalami hipotermia di Gunung Ungaran. (Foto: X)

Detik-Detik Bayi 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran 

Tubuh mungilnya menggigil. Tangisnya tak berhenti. Sementara di sekelilingnya, udara pegunungan Gunung Ungaran menggigit tanpa ampun, dan kedua orangtuanya justru sibuk bertengkar. Inilah gambaran detik-detik menegangkan yang dialami seorang bayi berusia 1,5 tahun di Pos 4 Jalur Pendakian Perantunan, Bandungan, Kabupaten Semarang, pada Sabtu, 11 April 2026.

Segalanya bermula dari sebuah peringatan yang tidak digubris. Pasangan suami-istri asal Semarang datang ke Basecamp Perantunan membawa anak mereka yang baru berusia 1,5 tahun, berniat melakukan pendakian tektok.

Peringatan diberikan oleh petugas basecamp. Sayangnya, peringatan itu dianggap angin lalu. Mereka menyatakan sanggup menanggung risiko dan menjamin keselamatan buah hati mereka. Atas dasar pernyataan kesanggupan tersebut, petugas akhirnya mengizinkan mereka naik.

Basecamp Perantunan berdiri di ketinggian sekitar 1.290 meter di atas permukaan laut. Semakin tinggi rombongan kecil itu melangkah, semakin tipis udara yang mereka hirup, dan semakin tajam dingin yang menusuk.

Bagi orang dewasa yang sehat dan berpakaian lengkap, dingin pegunungan adalah tantangan yang terukur. Namun bagi bayi 1,5 tahun, kondisi itu adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya. 

Bayi alami hipotermia di Gunung Ungaran Semarang. (Foto: X)

Kemampuan bayi untuk mengatur suhu internal tubuh tidak sebaik orang dewasa. Bayi dengan hipotermia berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan, metabolisme, sampai gangguan kesadaran.

Tubuh kecil sang bayi berjuang keras melawan dingin yang terus merayap.

Tibalah rombongan di Pos 4, titik yang menjadi saksi bisu drama paling mencekam hari itu. Alih-alih kompak, pasangan suami-istri tersebut justru terlibat perselisihan. Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sementara sang istri meminta untuk segera turun kembali ke basecamp.

Di tengah pertengkaran yang memanas itu, sang bayi tidak bisa menunggu. Di tengah perdebatan orang tuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus. Saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.

Tangisan bayi itu bukan sekadar rengekan biasa. Itu adalah sinyal tubuh yang mulai menyerah pada dingin. Pada bayi, hipotermia dapat ditandai dengan kulit yang terasa dingin dan terlihat kemerahan, serta tubuh yang lemas dan tidak mau menyusu atau makan. Tanda-tanda itu mulai tampak nyata.

Tim SAR Hadir, Selimut Darurat Mengepung Tubuh Mungil

Di saat yang kritis itulah, keberuntungan berpihak pada sang bayi. Ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR di sekitar lokasi. 

Melihat kondisi bayi yang mengkhawatirkan, tim SAR langsung bergerak tanpa menunggu. Selimut darurat atau blanket emergency segera dibalutkan mengelilingi tubuh mungil sang bayi, mengurung sisa-sisa panas tubuh yang hampir habis terkuras oleh udara pegunungan.

Tangan-tangan terlatih itu bekerja cepat dan tenang, berbanding terbalik dengan situasi kacau di sekelilingnya.

Kehangatan perlahan kembali. Tangis mereda. Tubuh kecil itu mulai stabil. Setelah ditenangkan dan diberikan kehangatan tambahan, bayi tersebut langsung dibawa turun bersama orangtuanya menuju basecamp. 

Namun detik-detik menegangkan di Pos 4 itu tidak terhapus begitu saja. Bayangan bayi yang menangis kedinginan sementara orang tuanya bertengkar telah terlanjur meninggalkan luka di benak siapa pun yang menyaksikannya.

Topik Menarik