Pramono Targetkan Pengerukan Banjir Kanal Barat Rampung 1 Tahun, Kurangi Risiko Banjir
JAKARTA, iNews.id - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menargetkan pengerukan Banjir Kanal Barat rampung dalam waktu satu tahun. Hal ini disampaikan Pramono saat meninjau pengerukan pada segmen Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026).
Pramono menuturkan, pengerukan Banjir Kanal Barat sebagai langkah strategis mengurangi risiko banjir di Jakarta.
“Kami hari ini berada di lokasi yang sangat strategis untuk mengatasi salah satu persoalan banjir di Jakarta. Di sinilah pertemuan Sungai Ciliwung dan Kali Krukut, yang sudah cukup lama tidak dikeruk. Kami akan berkonsentrasi selama satu tahun untuk pengerukan di Banjir Kanal Barat ini, yang merupakan hilir dari Kali Ciliwung dan Kali Krukut,” ujar Pramono dalam keterangannya dikutip, Sabtu (11/4/2026).
Banjir Kanal Barat memiliki lebar bervariasi antara 30 hingga 100 meter dengan total rencana volume pengerukan mencapai 179.269 meter kubik. Pekerjaan dibagi dalam tiga segmen, yakni Pintu Air Manggarai hingga Stasiun Karet sepanjang 3.543 meter, Stasiun Karet hingga Pintu Air Karet sepanjang 686 meter, serta Pintu Air Karet hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy) sepanjang 3.850 meter.
Saat ini, pengerukan difokuskan pada segmen ketiga sepanjang 3.850 meter dengan target volume sekitar 165.381 meter kubik. Hingga Kamis (9/4/2026), progres pengerukan telah mencapai 1.609 meter kubik dengan melibatkan enam unit alat berat, terdiri dari empat ekskavator amfibi berukuran besar dan dua ekskavator long arm, serta didukung 30 unit truk pengangkut berkapasitas 5 hingga 8 meter kubik.
Mantan Sekretaris Kabinet ini menyebut, pengerukan menjadi prioritas sehingga tidak boleh mengalami keterlambatan. Dia telah menugaskan Wali Kota Jakarta Pusat dan Dinas Sumber Daya Air untuk memastikan pelaksanaan berjalan sesuai target.
“Proyek ini tidak boleh gagal dan tidak boleh mundur. Ini menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tuturnya.
Pramono berharap, pengerukan dapat meningkatkan kapasitas tampung air, memperlancar aliran, serta mengatasi pendangkalan akibat endapan lumpur dan sampah. Upaya ini juga menjadi bagian dari mitigasi bencana untuk menekan risiko banjir dan genangan, khususnya di wilayah Setiabudi, Tanah Abang, Menteng, Gambir, Palmerah, hingga Grogol Petamburan.
“Dengan pengerukan dan normalisasi yang dilakukan secara konsisten, kami berharap potensi genangan di wilayah-wilayah tersebut dapat ditekan secara signifikan,” kata dia.
Pramono menuturkan, momentum penurunan curah hujan yang diprediksi terjadi mulai pertengahan April hingga September akan dimanfaatkan untuk mempercepat pengerukan dan normalisasi sungai.
Ke depan, hasil pengerukan ini akan terintegrasi dengan program normalisasi sungai, khususnya di aliran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut. Dengan demikian, aliran air menuju laut diharapkan semakin lancar sehingga potensi banjir dapat ditekan.
“Kalau ini berhasil, aliran air ke laut akan semakin cepat. Tantangannya memang saat terjadi rob, air tetap tertahan. Namun, ini bagian dari upaya besar kita untuk mengendalikan banjir,” ujarnya.










