Restui Serangan Israel, Wapres AS: Lebanon Tak Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Iran
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) dan Israel kompak, Lebanon tidak masuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Israel melakukan serangan besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), menewaskan ratusan orang hanya dalam hitungan jam.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara negaranya dengan Iran pada Selasa (7/4/2026). Dia menyebut, masalah masuk atau tidaknya Lebanon dalam kesepakatan sebagai kesalahpahaman.
"Saya kira ini berasal dari kesalahpahaman. Saya pikir Iran mengira bahwa gencatan senjata termasuk Lebanon dan itu tidak benar. Kami tidak pernah berjanji seperti itu," kata Vance, dalam kunjungan di Hongaria, dikutip Kamis (9/4/2026).
AS, lanjut Vance, tidak pernah menyebut Lebanon dalam kesepakatan itu.
"Yang kami sampaikan adalah gencatan senjata akan difokuskan pada Iran dan pada sekutu Amerika, baik Israel maupun negara-negara Arab Teluk," kata Vance.
Persija Jakarta Sumbang Pemain Terbanyak ke Skuad Sementara Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengatakan mengakhiri permusuhan antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan karena situasi di negara itu merupakan konflik terpisah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengatakan Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Sebelumnya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan dimulainya serangkaian serangan besar terhadap target Hizbullah di Lebanon.
Kantor berita Iran Tasnim melaporkan, Republik Islam Iran mengancam akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon. Bukan hanya itu, Iran menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menyusul serangan tersebut.










