Pramono Soroti Konflik Timur Tengah: Perang Tak akan Lama jika Ukhuwah Islamiyah Berjalan

Pramono Soroti Konflik Timur Tengah: Perang Tak akan Lama jika Ukhuwah Islamiyah Berjalan

Berita Utama | inews | Sabtu, 4 April 2026 - 17:05
share

JAKARTA, iNews.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti konflik yang terjadi di Timur Tengah. Menurutnya, perang di Timur Tengah terjadi lantaran kurangnya kesadaran akan Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Muslim. 

"Coba kalau Ukhuwah Islamiyah ini bener-bener jalan, negara-negara yang sekarang ini saling bersitegang, berantem, bertempur, karena merasa bahwa persaudaraan Islam menjadi pemersatu, menguatkan kita semua," kata Pramono usai menghadiri kegiatan halalbihalal bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (4/4/2026). 

Menurutnya, perang tidak akan berlangsung lama jika nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah diterapkan. 

"Saya yakin mereka pasti harusnya, kalau ajaran ini benar-benar diterapkan harusnya, mudah-mudahan perang ini tidak terlalu lama," tutur dia. 

Pramono pun berharap, konflik yang terjadi saat segera berakhir. Sebab, tak ada pihak yang diuntungkan dari gejolak tersebut. 

"Karena dampaknya terlalu banyak dan tidak ada daerah mana pun yang diuntungkan dari perang ini," ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah Iran mendesak negara-negara Arab mengusir pasukan Amerika Serikat (AS) dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah demi menghindari kerusakan lebih parah. Seruan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangkaian serangan yang menghantam infrastruktur vital Iran.

Juru bicara markas besar komando militer Iran Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan negara-negara di kawasan harus mengambil langkah tegas dengan memaksa AS menarik pasukannya. Menurut dia, keberadaan militer AS justru memperbesar risiko kehancuran di wilayah Timur Tengah.

"Negara-negara di kawasan harus memaksa AS mengusir pasukannya agar terhindar dari dampak kerusakan lebih luas," ujar Zolfaghari, seperti dikutip dari kantor berita ISNA, Sabtu (4/4/2026).

Pernyataan itu muncul setelah Iran murka atas serangan terbaru AS yang menghancurkan jembatan terbesar Iran. Jembatan yang berlokasi di Karaj itu rencananya segera diresmikan. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan memicu kemarahan Teheran.

AS berdalih serangan itu bertujuan memutus jalur distribusi rudal Iran, meski belum ada bukti bahwa jembatan tersebut digunakan untuk kepentingan militer.

Topik Menarik