Trump Heran Iran Tak Juga Menyerah meski Pesawat dan Kapal Perang AS Siap Serang
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump heran mengapa Iran tidak juga menyerah untuk menuruti keinginan AS dalam negosiasi nuklir, padahal armada-armada tempur sudah dikerahkan dan siap menyerang negara tersebut.
Hal itu diungkapkan utusan Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff dalam wawancara dengan Fox News, Sabtu (21/2/2026). Trump mempertanyakan mengapa Iran belum juga menyerah dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer AS untuk menekan agar mau mencapai kesepakatan nuklir.
AS dan Iran menjalani dua putaran negosiasi nuklir yakni di Oman dan Swiss dalam sebulan terakhir. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda kedua negara akan mencapai kesepakatan. Sementara itu AS telah mengirim dua gugus tempur kapal induk ke Timur Tengah yang diperkuat kapal-kapal perang pendukung, ratusan jet tempur, pesawat tanker, serta armada lainnya.
Witkoff mengatakan, Trump penasaran tentang sikap Iran setelah diancam akan mengalami konsekuensi berat jika tak mau juga mencapai kesepakatan.
"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi,' karena dia paham benar memiliki banyak alternatif, tapi dia penasaran mengapa mereka belum... Saya sebenarnya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah,' tapi mengapa mereka belum juga menyerah," kata Witkoff, menirukan pernyataan Trump.
“Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan kekuatan maritim dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’? Tapi, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu," ujarnya, lagi.
Lebih lanjut Witkoff mengakui telah bertemu dengan Reza Pahlavi, cucu shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979 sekaligus menandai berakhirnya rezim monarki di negara itu.
“Saya bertemu dengannya atas arahan Presiden (Trump)” katanya, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pahlavi kini menetap di AS . Dalam konferensi keamanan Munich, Jerman, pekan lalu, dia mengatakan siap memimpin negara itu menuju masa depan demokrasi sekuler. Pernyataan itu disampaikan setelah Trump mengatakan bahwa penggulingan rezim Iran merupakan langkah terbaik.
Trump juga mengatakan pada 19 Februari, Iran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan nuklir.










