Umumkan Maju Pilpres Filipina, Wapres Sara Duterte Minta Maaf Pernah Dukung Bong Bong Marcos
MANILA, iNews.id - Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte mengumumkan akan maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Filipina 2028. Dalam pernyataannya, dia juga meminta maaf kepada para pendukung karena pernah membantu kemenangan Presiden Ferdinand 'Bong Bong' Marcos Jr pada pemilu sebelumnya.
Sara dan Marcos Jr sebelumnya maju dalam pemilu Filipina dan berhasil meraih kemenangan. Namun di tengah masa pemerintahan, keduanya pecah kongsi dan diwarnai saling serang secara terbuka.
Ketegangan memuncak setelah Sara melontarkan pernyataan keras yang dianggap sebagai ancaman terhadap Marcos. Pernyataan itu berujung pada upaya pemakzulan terhadap dirinya, meski proses tersebut akhirnya gagal.
Pada 2024, Sara juga mendorong penyelidikan dugaan korupsi terkait penyalahgunaan dana pemerintah yang memicu penangkapan sejumlah pejabat.
Hubungan keduanya semakin memburuk setelah Marcos Jr menyetujui penangkapan Rodrigo Duterte oleh Kepolisian Nasional Filipina dan Interpol yang bertindak atas permintaan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sara menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung karena telah membantu Marcos Jr dalam pilpres sebelumnya.
“Saya tidak bisa berlutut di hadapan setiap warga Filipina untuk meminta maaf. Sebaliknya, saya memberikan hidup, tenaga, dan masa depan saya untuk melayani negara ini,” tuturnya, dalam video yang disiarkan di stasiun televisi nasional, Rabu (18/2/2026).
Sara menegaskan, pencalonannya didorong oleh keinginan untuk menghadapi berbagai persoalan yang masih membelit Filipina, mulai dari korupsi, kemiskinan, hingga krisis biaya hidup.
Pengumuman tersebut disampaikan di tengah memanasnya hubungan politik Sara dan Marcos Jr yang sebelumnya berpasangan sebagai presiden dan wakil presiden. Keretakan hubungan keduanya semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu mengaku butuh waktu panjang untuk memahami panggilan hidupnya di dunia politik.
“Butuh waktu 47 tahun bagi saya untuk menyadari bahwa hidup saya tidak pernah bertujuan hanya untuk diri sendiri,” ujarnya.










