Dewan Pers Minta Google Buka Dialog soal Publisher Rights di Era AI

Dewan Pers Minta Google Buka Dialog soal Publisher Rights di Era AI

Terkini | inews | Senin, 9 Februari 2026 - 11:44
share

SERANG, iNews.id - Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat meminta Google membuka ruang dialog dan merumuskan kebijakan terkait publisher rights di Indonesia. Dia menilai, kemitraan yang sehat antara perusahaan pers dan Google sebagai platform digital penting dibangun demi keberlanjutan dan kemajuan dunia jurnalistik.

Komaruddin menjelaskan, akses masyarakat terhadap informasi kini semakin mudah seiring pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI). Berbagai aplikasi AI mampu menjawab pertanyaan publik dengan memanfaatkan konten yang bersumber dari karya jurnalistik media massa.

"Sebagian diambil dari tulisan jurnalistik. Di situ ada wartawan yang capek kerja, tapi kemudian masuk ke Google, orang lain dengan mudah mengambil. Itu hal positif. Negatifnya, ada yang dirugikan, yaitu publisher lain. Isu itu penting untuk didiskusikan," katanya dalam diskusi Google News Initiative yang digelar di Kota Serang, Minggu (8/2/2026).

Dia menambahkan, praktik tersebut menimbulkan dampak negatif karena karya jurnalistik dimanfaatkan tanpa adanya imbal balik yang sepadan bagi pihak yang memproduksinya.

"Dia capek kerja, tak ada insentif, tak ada royalti, dan ini dampak negatif," katanya.

Menurut Komaruddin, persoalan publisher rights perlu dibahas secara serius melalui dialog antara Google dan perusahaan media. Dia mengingatkan pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas.

"Ke depan, mari kita pecahkan dan selesaikan bersama sehingga Google berkembang, tetapi pers juga berkembang. Kerja sama ini akan kita bicarakan bersama," katanya.

Sementara Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menyoroti tantangan besar yang dihadapi jurnalisme di tengah disrupsi arus informasi. Meski demikian, dia menekankan pentingnya jurnalisme tetap menjaga kredibilitas dan akurasi agar dapat terus bertahan.

"Jurnalisme punya disiplin, yaitu disiplin verifikasi. Disiplin inilah yang mungkin pada suatu saat ChatGPT bisa melakukannya. Namun demikian, verifikasi yang mendalam dan autentik tetap membutuhkan manusia," katanya.

Topik Menarik