Satu Tahun MBG: dari Intervensi Gizi ke Perubahan Perilaku Hidup Sehat

Satu Tahun MBG: dari Intervensi Gizi ke Perubahan Perilaku Hidup Sehat

Terkini | inews | Jum'at, 23 Januari 2026 - 11:25
share

Sri Gusni Febriasari

Sekjen Iluni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI & Founder Komunitas Sobat Sehat

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu kebijakan publik paling ambisius dalam upaya perbaikan gizi nasional. Dengan menjangkau jutaan anak sekolah, program ini menghadirkan negara secara nyata di ruang kelas dengan memastikan anak-anak tidak belajar dalam kondisi lapar dan memiliki akses pada makanan yang layak. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, niat tersebut tentu patut diapresiasi.

Namun, satu tahun implementasi MBG juga menghadirkan ruang refleksi. Sejumlah temuan di lapangan, mulai dari kasus gangguan kesehatan akibat makanan, kualitas menu yang belum konsisten, hingga tata kelola yang masih berproses, menunjukkan bahwa intervensi pangan berskala besar tidak cukup bila hanya bertumpu pada distribusi makanan. Program semacam ini menuntut fondasi sistem kesehatan masyarakat yang kuat, terutama pada aspek keamanan pangan, mutu gizi, dan perubahan perilaku.

Pertanyaan kuncinya bukan semata seberapa luas cakupan MBG, melainkan sejauh mana program ini selaras dengan prinsip gizi seimbang, bukti ilmiah, dan tujuan kesehatan jangka panjang anak. Isu keamanan pangan menjadi perhatian paling mendesak. Kasus keracunan makanan di berbagai daerah tidak bisa dipandang sebagai insiden yang berdiri sendiri. 

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kejadian yang berulang merupakan sinyal adanya celah sistemik, dari standar sanitasi, pengawasan rantai pasok, maupun kapasitas penyedia makanan. Intervensi gizi, sebaik apa pun niatnya, tidak boleh mengorbankan prinsip dasar keamanan pangan. Tanpa penguatan pengawasan dan standar operasional yang ketat, manfaat program justru berisiko tereduksi oleh dampak kesehatan yang tidak diinginkan.

Persoalan berikutnya terletak pada kualitas dan komposisi menu. Sejumlah evaluasi menunjukkan masih ditemukannya makanan ultra-proses dalam paket MBG. Dari sisi kepraktisan, makanan jenis ini memang efisien. 

Namun, secara gizi, ia tidak sejalan dengan Pedoman Gizi Seimbang yang menekankan keberagaman pangan, konsumsi buah dan sayur, serta protein berkualitas. Bagi anak-anak, paparan rutin terhadap makanan ultra-proses bukan hanya soal asupan hari ini, tetapi juga pembentukan preferensi dan kebiasaan makan jangka panjang yang kelak memengaruhi risiko penyakit tidak menular di usia dewasa.

Dalam diskursus stunting, MBG juga perlu ditempatkan secara proporsional. Bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa stunting terutama ditentukan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, sejak prakonsepsi hingga anak berusia dua tahun. 

Konsensus global menempatkan fase awal kehidupan sebagai periode paling menentukan dalam pencegahan gangguan tumbuh kembang. Intervensi di usia sekolah tetap bermanfaat bagi kesehatan dan konsentrasi belajar, tetapi memiliki dampak terbatas terhadap penurunan stunting. Karena itu, MBG seharusnya diposisikan sebagai bagian dari ekosistem kebijakan gizi yang terintegrasi, bukan sebagai satu-satunya instrumen utama.

Pemerataan Kemampuan Hidup Sehat

Dalam kerangka keadilan sosial, kebijakan gizi publik seperti MBG perlu dipahami bukan sekadar sebagai program bantuan, melainkan sebagai instrumen pemerataan kemampuan hidup sehat. Soedjatmoko, dalam Etika Pembebasan, mengingatkan bahwa pembangunan yang adil diukur dari sejauh mana kebijakan publik memperluas kapasitas manusia untuk hidup bermartabat. 

Dalam konteks kesehatan, pemikiran ini sejalan dengan konsep Paradigma Sehat yang dikemukakan Achmad Sujudi, yang menempatkan kesehatan sebagai hasil interaksi antara kebijakan, lingkungan sosial, dan perilaku masyarakat. 

Artinya, keadilan sosial dalam program gizi tidak berhenti pada pembagian makanan, tetapi mencakup jaminan keamanan, mutu, relevansi budaya, serta penguatan kemampuan individu dan keluarga untuk membuat pilihan gizi yang lebih sehat. Tanpa dimensi ini, kebijakan berisiko tereduksi menjadi pencapaian administratif, alih-alih pemenuhan hak atas kesehatan sebagaimana diamanatkan sila kelima Pancasila.

Edukasi dan Promosi Gizi: Penguat Dampak Jangka Panjang

Dari sisi keluarga, temuan bahwa sebagian orang tua masih harus mengeluarkan biaya tambahan karena anak tidak selalu mengonsumsi makanan yang disediakan memberi sinyal penting. Intervensi gizi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Preferensi anak, kebiasaan makan di rumah, serta pemahaman orang tua tentang gizi sangat memengaruhi efektivitas program. Tanpa keterlibatan keluarga, manfaat MBG akan sulit optimal.

Di titik inilah MBG perlu dipahami sebagai instrumen perubahan perilaku gizi, bukan sekadar program pemberian makanan. Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, intervensi pangan yang tidak disertai edukasi gizi berkelanjutan cenderung menghasilkan dampak yang terbatas. Literasi gizi, peran guru sebagai agen promosi kesehatan, serta komunikasi yang konsisten dengan orang tua menjadi kunci agar manfaat MBG tidak berhenti pada konsumsi sesaat.

Evaluasi satu tahun MBG seharusnya dibaca sebagai bagian dari siklus kebijakan publik yang sehat. Keberhasilan kebijakan kesehatan tidak diukur dari besarnya cakupan semata, melainkan dari kesesuaiannya dengan bukti ilmiah, konteks sosial, dan kapasitas sistem pendukungnya. 

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak ditentukan oleh berapa juta porsi makanan yang dibagikan, tetapi oleh apakah anak-anak Indonesia tumbuh lebih sehat, lebih sadar gizi, dan membawa kebiasaan makan yang lebih baik hingga dewasa. Di situlah ukuran sejati pembangunan kesehatan generasi mendatang. 

Topik Menarik