Korban Tewas Demonstrasi di Iran Jadi 648 Orang termasuk Anak di Bawah Umur
PARIS, iNews.id - Jumlah korban tewas dalam demonstrasi besar-besaran di Iran mencapai 648 orang hingga Senin (12/1/2026). Angka tersebut berdasarkan laporan Lembaga Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia.
IHR memperingatkan pemutusan akses internet, berdasarkan pemantauan Netblocks telah berlangsung 4 hari, bertujuan untuk menutupi tindakan kekerasan dan mematikan terhadap demonstran oleh pasukan keamanan.
Menurut data IHR, dari 648 orang yang tewas, sembilan di antaranya anak di bawah umur. Selain itu ribuan lainnya luka.
IHR memperingatkan jumlah korban tewas yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, bahkan berdasarkan perkiraan lebih dari 6.000 orang. Selain itu 10.000 orang lebih ditangkap di penjuru negara.
Pemadaman internet serta putusnya layanan komunikasi membuat upaya memverifikasi laporan-laporan terkait korban secara independen sangat sulit.
“Masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk melindungi para demonstran sipil dari pembunuhan massal oleh republik Islam,” kata Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.
Otoritas Iran berupaya merebut kembali kendali jalan-jalan yang dikuasai demonstran di kota-kota besar serta memulihkan keamanan.
Sementara itu pemerintah Iran menyerukan para pendukung pemerintah menggelar demonstrasi tandingan pada Senin kemarin.
Banyaknya demonstran yang turun ke jalan mendapat pujian dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menurut Khamenei, ini membuktikan unjuk rasa anti-pemerintah yang didalangi kekuatan asing telah dikalahkan.
Pria 86 tahun yang telah berkuasa sejak 1989 itu mengatakan, demonstrasi pro-pemerintah merupakan peringatan bagi Amerika Serikat.
“Aksi unjuk rasa besar-besaran ini, yang penuh tekad, telah menggagalkan rencana musuh asing yang seharusnya dilakukan tentara bayaran di dalam negeri,” katanya.










