Blak-blakan! Manohara Menikah dengan Pangeran Kelantan Tengku Fakhry di Usia 15 Tahun
JAKARTA, iNews.id - Fakta mengejutkan diungkap figur publik Manohara Odelia Pinot soal pernikahannya dengan Pangeran Kelantan Tengku Fakhry 2008 silam. Hal itu terkait dengan usia saat dirinya menikah.
Manohara Odelia Pinot secara blak-blakan mengaku dirinya menikah dengan Pangeran Kelantan Tengku Fakhry saat berusia 15 tahun, di bawah umur. Ini yang mendasari dia tidak mau ada embel-embel 'mantan istri' dalam profilnya.
Menurut dia, ketika pernikahan tidak didasari pada persetujuan bersama, atas keinginannya sendiri, itu bukan pernikahan yang sah. Dengan begitu, dia berharap tidak ada lagi istilah 'mantan istri' dalam hidupnya.
"Apa yang terjadi selama masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah," tegasnya, dikutip dari Instagram, Rabu (7/1/2026).
"Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Manohara juga menegaskan kalau dirinya adalah korban pelecehan seksual. Fakta ini cukup mengejutkan publik.
"Ketika seseorang menjadi korban pelecehan seksual, kami tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar pelaku, kami tidak membingkai kekerasan seksual sebagai suatu hubungan. Kami tidak mengubah pelecehan menjadi cerita yang didasari pada persetujuan. Logika yang sama berlaku di sini," katanya.
"Saya berusia 15 tahun, dan pria itu berusia 30-an. Tidak ada kencan, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan," sambungnya.
Jadi, kata Manohara, dengan menyebut korban sebagai 'mantan pasangan' atau 'mantan istri' dari orang yang menyakiti, tidak membuat situasi menjadi leih sopan atau dapat diterima secara budaya.
"Itu membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, itu mengalihkan fokus dari kerugian dan ke anak itu sendiri," katanya.
"Korban tidak membutuhkan gelar yang menyiratkan pilihan di mana tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa bahasa itu penting," tambah Manohara.
Tidak sampai di situ, Manohara pun mengatakan, "Ketika pelecehan berulang kali digambarkan sebagai suatu hubungan, itu mengajarkan masyarakat untuk melihat paksaan sebagai persetujuan, dan anak-anak sebagai peserta, bukan korban.
"Pola pikir ini menyebabkan kerugian yang nyata, bukan hanya bagi saya tapi juga bagi gadis-gadis lain yang menyaksikan bagaimana situasi ini dibahas. Saya tidak meminta siapa pun untuk merasa kasihan ke saya, saya minta keakuratan, dan keakuratan berarti tidak menampilkan situasi paksa yang melibatkan anak sebagai hubungan orang dewasa yang sukarela. Itu intinya," tambahnya.










