Enzo Maresca Akhirnya Buka Suara usai Dipecat Chelsea meski Juara Piala Dunia
LONDON, iNews.id – Enzo Maresca akhirnya buka suara setelah secara mengejutkan didepak Chelsea, meski baru saja mengantar klub London Barat itu meraih gelar juara Piala Dunia Antarklub 2025 dan mengamankan tiket Liga Champions.
Pemecatan pelatih asal Italia tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum Chelsea mengumumkan Liam Rosenior sebagai penggantinya. Keputusan manajemen memicu gelombang reaksi karena Maresca meninggalkan Stamford Bridge dengan catatan prestasi yang tidak kecil.
Lewat pernyataan resmi di media sosial, Maresca memilih sikap tenang dan elegan. Dia menegaskan pergi dengan hati damai, meski masa baktinya berakhir di tengah dinamika internal klub.
“Saya pergi dengan ketenangan batin setelah meninggalkan klub besar seperti Chelsea di tempat yang semestinya,” tulis Maresca dalam pernyataan yang dikutip dari akun Instagram pribadinya.
Pelatih berusia 45 tahun tersebut tidak menyinggung konflik internal yang disebut-sebut menjadi penyebab utama perpisahan. Dia justru mengawali pesannya dengan kutipan Robert Baden-Powell, pendiri gerakan Pramuka.
“Tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik dari saat kamu menemukannya,” tulis Maresca, menegaskan sikapnya memilih fokus pada warisan, bukan polemik.
Warisan 18 Bulan yang Sulit Diabaikan
Maresca mengingat kembali awal perjalanannya bersama Chelsea yang dimulai dari babak kualifikasi UEFA Conference League pada musim panas 2024. Dari titik tersebut, dia membawa The Blues kembali ke jalur elite sepak bola Eropa.
Dalam 18 bulan kepemimpinannya, Maresca mempersembahkan tiga capaian besar. Chelsea lolos ke Liga Champions, menjuarai UEFA Conference League, serta menutup era kepelatihannya dengan gelar Piala Dunia Antarklub 2025.
“Saya berterima kasih kepada seluruh penggemar Chelsea atas dukungan mereka selama 18 bulan terakhir,” tulis Maresca.
“Dukungan yang sangat penting untuk meraih tiket Liga Champions, menjuarai Conference League, dan memenangkan Piala Dunia Antarklub. Kemenangan-kemenangan ini akan selalu saya simpan di hati.”
Gelar Piala Dunia Antarklub menjadi pencapaian paling prestisius. Chelsea tampil sebagai tim terbaik dunia setelah melalui turnamen panjang di Amerika Serikat, sebuah trofi yang seharusnya menjadi fondasi stabilitas jangka panjang.
Namun, hubungan Maresca dengan jajaran petinggi klub dilaporkan memburuk akibat perbedaan pandangan terkait kebijakan transfer dan kendali teknis tim. Ketegangan tersebut berujung pada keputusan ekstrem manajemen.
Kepergian Maresca terjadi di tengah tekanan tinggi Chelsea yang terus menuntut hasil instan dan kontrol penuh terhadap arah tim. Situasi ini membuat kursi pelatih di Stamford Bridge kembali menjadi salah satu posisi paling panas di Eropa.
Kini, tongkat estafet beralih ke tangan Liam Rosenior. Sementara itu, Maresca meninggalkan Chelsea dengan kepala tegak, membawa rekam jejak trofi yang sulit dihapus dari sejarah klub.









