Keras! Iran Sebut Serangan AS ke Venezuela sebagai Terorisme Negara
NEW YORK, iNews.id - Iran mengulangi kecamannya terhadap Amerika Serikat (AS) terkait serangan ke Venezuela disertai penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026).
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengatakan, pemerintahannya mengutuk operasi militer AS di Venezuela dengan menyebutnya sebagai tindakan terorisme yang dilakukan negara. Serangan AS itu juga melanggar Piagam PBB.
"Republik Islam Iran mengutuk dengan sekeras-kerasnya, serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Republik Bolivarian Venezuela," kata Iravani, dalam sidang Dewan Keamanan PBB, dikutip Selasa (6/1/2026).
Agresi militer terhadap negara anggota PBB merupakan pelanggaran serius terhadap perdamaian dan keamanan serta bisa menimbulkan dampak luas.
Selain itu, lanjut iravani, penangkapan Maduro dan istrinya bukan hanya pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional, namun juga prinsip-prinsip kekebalan yang diberikan kepada kepala negara.
Tindakan tersebut merupakan serangan serius terhadap kedaulatan negara yang setara. Iran menegaskan dukungan penuh terhadap rakyat dan pemerintah Venezuela.
Kebijakan AS untuk mewujudkan perdamaian menggunakan kekuatan militer, tak ubahnya dengan praktik hukum rimba dan kekerasan.
Tindakan itu akan membuat sistem keamanan kolektif PBB tidak berjalan efektif.
Lebih lanjut Iran mengkritik absennya Dewan Keamanan PBB yang terus menerus dalam menghadapi ancaman dan agresi AS.
Jika dibiarkan, kondisi itu bisa menumbuhkan iklim impunitas yang berbahaya.
Menurut Iravani, Presiden AS Donald Donald Trump juga berulang kali mengeluarkan ancaman kekerasan secara terbuka terhadap Iran seraya mengklaim dukungannya terhadap rakyat Iran.
"Iran menegaskan kembali hak inherennya untuk membela masyarakat, integritas teritorial, dan keamanan nasional. Amerika Serikat akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensi yang timbul dari ancaman ilegal (AS)," ujarnya, merujuk pada pernyataan-pernyataan Trump terkait demonstrasi besar-besaran di Iran.










