Lonjakan Kasus di Indonesia Belum Signifikan, IDAI Tetap Ingatkan Masyarakat untuk Waspada

Lonjakan Kasus di Indonesia Belum Signifikan, IDAI Tetap Ingatkan Masyarakat untuk Waspada

Terkini | idxchannel | Minggu, 20 September 2026 - 10:40
share

IDXChannel—Kasus Influenza A saat ini tengah menjadi kekhawatiran tersendiri khususnya bagi para orang tua yang memiliki anak balita atau masih kecil. Namun, kasus di Indonesia sendiri saat ini belum mengalami lonjakan yang cukup signifikan. 

Meski demikian, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Bukan tanpa alasan, IDAI mengingatkan pentingnya kewaspadaan ekstra terhadap infeksi Influenza A karena memiliki daya tular tinggi serta kemampuan bermutasi yang sangat cepat. 

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. DR. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), menjelaskan bahwa struktur permukaan virus influenza dikelilingi tonjolan, yakni hemaglutinin dan neuraminidase. Kedua elemen inilah yang memfasilitasi virus untuk menempel pada sel tubuh sekaligus melakukan proses mutasi.

Dari beberapa tipe virus yang beredar, tipe A dan B merupakan yang paling sering menginfeksi manusia. Meski demikian, tipe A dengan subtipe H1N1 dan H3N2 menjadi spesies yang paling mendominasi sirkulasi dan patut diwaspadai keberadaannya. Bahkan tipe A memiliki tingkat mutasi yang sangat cepat, tidak hanya kepada manusia tetapi juga hewan.

"Ini yang paling sering terjadi adalah justru flu A, datanya paling tinggi. Ternyata flu A ini yang kita harus hati-hati karena dia ini hobinya cepat sekali mutasi, tidak hanya manusia, hewan pun juga, dan terutama menjadi perhatian kita adalah babi," kata Prof. Anggraini dalam konferensi pers daring yang digelar IDAI, Jumat (18/9/2026).

Sifat perubahannya yang amat dinamis menjadikan Influenza A memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan tipe B. Prof. Anggraini menambahkan bahwa riwayat mutasi ekstrem pada tipe A tercatat pernah memicu gelombang pandemi besar dalam sejarah kesehatan global.

"Mutasinya, ini yang A ini bisa menyebabkan pandemi sebagaimana dulu pandemi Spanish Flu, kemudian pandemi pada saat ada Mexican atau Swine Flu kalau masih ingat semuanya," tutur dia.

Lalu siapa yang paling beresiko terkena Influenza A? Pada dasarnya, setiap orang dari berbagai kelompok usia dapat terinfeksi virus influenza A maupun B. Kendati demikian, dampak keparahan infeksinya tidak dirasakan sama oleh semua orang.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala berat hingga komplikasi.

Penyebaran Influenza A yang luas dan cenderung berat sangat berkaitan dengan mekanisme perubahan genetik virus tersebut, baik berupa antigenic drift (perubahan kecil secara berkala) maupun antigenic shift (perubahan besar secara mendadak). 

Ketika struktur virus berubah, sistem kekebalan tubuh manusia belum memiliki antibodi yang mengenali ancaman baru tersebut.

"Karena manusia itu belum memiliki antibodinya, sehingga tidak heran kok lebih berat, kok lebih luas penyebarannya," jelas Prof. Anggraini.

Sebagai langkah perlindungan diri dan keluarga, masyarakat dianjurkan untuk tidak melupakan tindakan pencegahan medis primer. IDAI menegaskan bahwa perlindungan terbaik dari ancaman komplikasi flu musiman maupun risikonya yang terus berkembang adalah melalui pemberian vaksinasi secara rutin.

"Sudah bisa flu A dan B ini kita cegah dengan vaksinasi. Nah, ini yang kita katakan tadi, takut deh kita mengalami mutasi, semoga tidak terjadi yang kita katakan antigenic shift," pungkas dia.

(Nadya Kurnia)

Topik Menarik