Bisnis Sampah Sumbang 92 Persen EBITDA, Portofolio TOBA Kian Bergeser dari Batu Bara
IDXChannel - Bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) pada semester I-2026.
Segmen tersebut menyumbang sekitar 92 persen dari adjusted EBITDA konsolidasi, seiring meningkatnya porsi bisnis non-batu bara dalam struktur usaha perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, bisnis pengelolaan limbah membukukan adjusted EBITDA sebesar USD23,6 juta, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen ini juga menghasilkan pendapatan USD105,9 juta atau sekitar 61,2 persen dari total pendapatan konsolidasi perseroan.
Pertumbuhan tersebut menjadikan bisnis pengelolaan limbah sebagai kontributor terbesar dalam portofolio TOBA.
Pendapatan segmen ini tumbuh 77,8 persen secara tahunan dari USD59,6 juta, sementara laba kotornya naik 91,9 persen menjadi USD17,6 juta dari USD9,2 juta. Margin kotor turut meningkat menjadi 16,6 persen dari sebelumnya 15,4 persen.
Analis Ciptadana Sekuritas Rizal Rafly menilai, peningkatan kontribusi bisnis pengelolaan limbah menjadi perkembangan penting karena menunjukkan bahwa sumber earnings TOBA mulai bergeser dari bisnis berbasis komoditas menuju bisnis dengan karakter pendapatan yang lebih berulang.
“Kalau sebelumnya investor melihat TOBA terutama sebagai perusahaan yang sangat terkait dengan batu bara, sekarang profilnya mulai berubah. Ketika waste management sudah menyumbang sebagian besar EBITDA, artinya sumber laba operasional perseroan mulai memiliki basis yang berbeda dari sebelumnya,” kata Rizal.
Secara keseluruhan, bisnis non-batu bara yang mencakup pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik menyumbang 66,5 persen dari pendapatan konsolidasi TOBA pada semester I-2026.
Porsinya lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi bisnis batu bara yang berada di level 31,4 persen.
Corporate presentation TOBA menunjukkan perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam satu kuartal.
Pergeseran struktur pendapatan telah terlihat sejak kuartal I-2026 dan berlanjut pada kuartal berikutnya, sehingga meningkatkan porsi bisnis non-batu bara dalam komposisi usaha perseroan.
Bisnis pengelolaan limbah TOBA saat ini beroperasi melalui sejumlah aset di Indonesia dan Singapura. Cora Environment di Singapura mengelola sekitar 752.000 ton limbah sepanjang periode tersebut dengan tingkat ketersediaan fasilitas 86 persen.
Sementara itu, Asia Medical Enviro Services yang juga beroperasi di Singapura mengelola sekitar 2.100 ton limbah dengan tingkat ketersediaan fasilitas 90 persen.
Di Indonesia, ARAH Environmental mengelola sekitar 5.800 ton limbah dengan tingkat ketersediaan fasilitas sebesar 84 persen.
Menurut Rizal, besarnya kontribusi waste management dapat memberikan karakter pendapatan yang berbeda bagi TOBA dibandingkan ketika perseroan lebih bergantung pada pergerakan harga komoditas.
“Pengelolaan limbah pada dasarnya memiliki potensi recurring income yang lebih kuat karena kebutuhan terhadap layanan tersebut bersifat berkelanjutan. Bagi TOBA, semakin besarnya skala bisnis ini dapat membantu membangun earnings yang lebih stabil dan mengurangi sensitivitas terhadap siklus komoditas,” imbuh dia.
Pada saat yang sama, bisnis kendaraan listrik juga mulai menjadi bagian dari pertumbuhan bisnis non-batu bara TOBA. Pendapatan Electrum meningkat 184 persen secara tahunan menjadi USD9,1 juta pada semester I-2026.
Segmen tersebut juga menunjukkan perbaikan profitabilitas. Laba kotor berbalik menjadi positif sebesar USD0,4 juta dari rugi USD0,5 juta pada periode yang sama tahun lalu, sementara EBITDA berubah menjadi positif USD0,5 juta.
Skala ekosistem Electrum kini mencakup hampir 14.000 sepeda motor listrik dan sekitar 550 Battery Swapping Station.
Aktivitas penukaran baterai telah mencapai lebih dari 1,7 juta kali per bulan, dengan total jarak tempuh dalam ekosistem tersebut melampaui 135 juta kilometer.
Di tengah peningkatan kontribusi bisnis non-batu bara, TOBA masih mempertahankan bisnis pertambangan batu bara sebagai bagian dari portofolionya selama masa transisi.
Meski pendapatannya turun 4,1 persen menjadi USD34,9 juta, profitabilitas segmen tersebut membaik.
Laba kotor pertambangan batu bara meningkat menjadi USD9,3 juta dari USD1,3 juta, dengan margin kotor naik menjadi 26,6 persen dari 3,5 persen. Adjusted EBITDA segmen ini juga berbalik menjadi positif USD1,3 juta dari sebelumnya rugi USD11,1 juta.
Di tingkat konsolidasi, perubahan komposisi bisnis tersebut tercermin pada kinerja TOBA selama semester I-2026.
Laba kotor meningkat 102,9 persen menjadi USD28,2 juta dari USD13,9 juta, sedangkan adjusted EBITDA tumbuh 23,7 persen menjadi USD25,7 juta dari USD20,8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. (Aldo Fernando)










