Bursa Asia Rebound, Kospi Melonjak 6 Persen

Bursa Asia Rebound, Kospi Melonjak 6 Persen

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:24
share

IDXChannel – Bursa saham Asia rebound pada perdagangan Kamis (20/8/2026), mengikuti penguatan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Sentimen pasar membaik setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah untuk meredam gejolak di pasar obligasi, yang sebelumnya mendorong imbal hasil Treasury AS melonjak.

Melansir dari Reuters, pemerintah AS melalui Departemen Keuangan mengumumkan rencana untuk menggandakan ukuran pembelian kembali (buyback) surat utang berjangka panjang.

Langkah tersebut meredakan kekhawatiran likuiditas dan memberi sinyal bahwa pemerintah siap mengambil tindakan untuk menstabilkan pasar ketika biaya pinjaman meningkat terlalu cepat.

"Pengumuman tersebut menenangkan investor karena menunjukkan bahwa pejabat AS menyadari tekanan pada biaya pinjaman jangka panjang," ujar ekonom senior National Australia Bank, Taylor Nugent, dikutip Reuters.

Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun tercatat sedikit turun menjadi 5,189 persen pada perdagangan Asia Kamis, setelah merosot 9 basis poin pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun berada di 4,6466 persen, turun 5 basis poin pada Rabu.

Penurunan imbal hasil obligasi AS turut menopang sentimen di pasar saham. Indeks Nikkei Jepang naik 1,11 persen pada awal perdagangan.

Sejumlah saham menjadi penguat utama, seperti Shimano yang melonjak 4,9 persen, Daiichi Sankyo naik 4,7 persen, dan Shiseido menguat 4 persen.

Penguatan lebih besar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 6,05 persen. Sementara itu, Shanghai Composite China naik 0,71 persen, Hang Seng Hong Kong terkerek 1,15 persen, dan ASX 200 Australia menguat 0,19 persen.

Di kawasan Asia Tenggara, pergerakan pasar cenderung beragam. Indeks Straits Times (STI) Singapura justru turun 0,63 persen.

Secara global, penguatan saham juga tercermin pada kontrak berjangka Wall Street. Nasdaq futures naik 0,5 persen, sedangkan S&P 500 futures menguat 0,16 persen. Sebaliknya, EURO STOXX 50 futures turun 0,14 persen.

Pergerakan imbal hasil Treasury yang lebih rendah turut menekan dolar AS. Indeks dolar AS berada di sekitar 98,86, mendekati level terendah dalam sekitar 2,5 bulan.

"Jika imbal hasil obligasi tenor panjang secara efektif dibatasi, pelemahan dolar AS dapat menjadi konsekuensi untuk mempertahankan daya tarik surat utang pemerintah AS bagi investor asing," kata analis OCBC dalam catatannya.

Meski demikian, investor masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Risalah rapat kebijakan terbaru The Fed menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi semakin meningkat. Sejumlah pejabat bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak terus turun menuju target 2 persen.

Pasar kini menantikan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada pekan depan.

Analis OCBC memperkirakan Warsh tidak memberikan sinyal yang terlalu hawkish, mengingat belum adanya panduan kebijakan yang tegas. (Aldo Fernando)

Topik Menarik