Harga Minyak Dunia Melonjak 7 Persen, Tembus Level USD100 per Barel
IDXChannel – Harga minyak ditutup di atas level USD100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026) untuk pertama kalinya sejak Mei, setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Insiden tersebut memperparah gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya telah dipicu oleh hampir terhentinya arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Kontrak berjangka Brent ditutup melonjak 7 persen menjadi USD100,69 per barel, sekaligus menjadi penutupan tertinggi sejak 22 Mei.
Harga minyak acuan global itu kini telah melonjak hampir 40 persen dibandingkan saat perang Iran pecah pada Februari, dengan hampir seluruh kenaikannya terjadi sepanjang bulan ini.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup meningkat 6,2 persen menjadi USD92,19 per barel, level penutupan tertinggi sejak 4 Juni.
"Dengan kemungkinan perang darat yang tampaknya meningkat dari hari ke hari, serta lalu lintas kapal tanker yang dibatasi di dua jalur pelayaran paling sibuk di dunia, harga minyak mentah kini bergerak mendekati rekor tertinggi empat tahun di USD126,41 per barel. Pada saat yang sama, persediaan global terus menyusut dengan cepat hingga pada akhirnya bisa mencapai titik yang sangat kritis," kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, dikutip Reuters.
Kelompok Houthi di Yaman membuka front baru dalam perang Iran dengan menargetkan kapal-kapal yang mengangkut minyak Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb, setelah sebelumnya menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap pengiriman minyak dari Arab Saudi.
Houthi menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi dalam sebuah operasi militer.
Belakangan, kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, mengonfirmasi bahwa salah satu dari dua kapal tersebut terbakar setelah diserang saat berlayar di Laut Merah. Namun, SPA tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
"Eskalasi ini memperburuk hampir terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz dan penurunan tajam ekspor minyak Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan minyak global dalam jangka pendek," tulis Gelber and Associates dalam sebuah catatan riset.
Para analis memperkirakan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dilalui volume minyak yang setara dengan sekitar seperempat pasokan minyak dunia. (Aldo Fernando)










