Racikan Portofolio di Tengah Ketidakpastian, Simak Sederet Aset Andalan

Racikan Portofolio di Tengah Ketidakpastian, Simak Sederet Aset Andalan

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 24 Juli 2026 - 06:52
share

IDXChannel – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang masih tinggi, menjaga daya beli dinilai menjadi tujuan utama dalam mengelola investasi.

Fokus investor tidak lagi sekadar mengejar imbal hasil nominal setinggi mungkin, melainkan mempertahankan nilai kekayaan riil agar tetap tumbuh dalam berbagai fase siklus pasar.

Dalam kondisi seperti itu, portofolio yang terdiversifikasi dengan kombinasi aset berbasis mata uang asing, emas, saham berorientasi ekspor, serta kas dinilai mampu memberikan perlindungan sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra dalam risetnya yang terbit pada 23 Juli 2026 menilai alokasi modal yang disiplin kini lebih berorientasi pada menjaga daya beli atau purchasing power dibanding mengejar keuntungan nominal semata.

Menurutnya, portofolio ideal terdiri atas 30 persen obligasi global pemerintah Indonesia berdenominasi mata uang asing, 20 persen emas fisik, 30 persen saham berorientasi ekspor, dan 20 persen kas atau aset likuid.

Untuk porsi obligasi global pemerintah Indonesia, Arief menilai instrumen tersebut menawarkan kombinasi menarik antara pendapatan tetap dan eksposur terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Ia menyoroti keberhasilan pemerintah menerbitkan obligasi global tenor lima tahun dan 10 tahun dalam denominasi dolar AS dan euro pada Mei 2026 dengan total penghimpunan dana USD2 miliar dan EUR1,25 miliar.

Permintaan investor mencapai sekitar tiga kali lipat dari nilai yang ditawarkan, mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap kualitas kredit Indonesia.

Saat ini, obligasi global pemerintah Indonesia tenor lima tahun dalam denominasi dolar AS menawarkan yield to maturity sekitar 4,98 persen, sehingga dinilai lebih menarik dibanding sekadar menyimpan dana tunai dalam dolar AS.

Sementara itu, untuk alokasi emas fisik sebesar 20 persen, Sucor Sekuritas mengakui harga emas masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Beberapa sentimen yang membayangi antara lain larangan investasi produk emas nonfisik (paper gold) bagi investor ritel di China, kenaikan persyaratan margin logam mulia di CME, serta peluang berlanjutnya kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Meski demikian, emas tetap dipandang sebagai aset strategis untuk melindungi nilai kekayaan dari pelemahan mata uang, inflasi, dan risiko geopolitik.

Selain itu, emas juga berfungsi sebagai instrumen diversifikasi yang dapat meningkatkan ketahanan portofolio terhadap gejolak pasar keuangan.

Di sisi saham, Sucor memilih emiten yang memiliki pendapatan dominan dalam mata uang asing, arus kas bebas yang kuat, serta risiko pembiayaan kembali (refinancing) yang rendah.

Menurut Arief, karakteristik tersebut membuat perusahaan lebih mampu bertahan menghadapi kondisi makro yang menantang sekaligus memanfaatkan peluang ketika kondisi membaik.

Sucor Sekuritas tetap positif terhadap sektor energi dan logam, mengingat harga saham di sektor tersebut telah terkoreksi cukup dalam meski fundamental perusahaan masih relatif kuat.

Saham-saham yang menjadi pilihan utama yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Kemudian, alokasi kas sebesar 20 persen dinilai penting untuk menjaga fleksibilitas di tengah meningkatnya volatilitas pasar.

Menurut Arief, tekanan likuiditas sering kali memicu aksi jual tanpa mempertimbangkan fundamental perusahaan sehingga menciptakan peluang membeli saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik.

Meski masih mempertahankan sikap underweight terhadap sektor perbankan, konsumer, dan properti, Sucor menilai koreksi yang lebih dalam pada sektor-sektor tersebut justru dapat menjadi momentum untuk mulai mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat dengan harga yang lebih murah. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik