MUTU Bidik Potensi Green Economy Rp8.000 Triliun, Ini Alokasi Dana Private Placement
IDXChannel — PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) membeberkan alasan utama di balik keputusan perseroan mengeksekusi aksi private placement sebesar Rp29,9 miliar di tengah dinamika pasar saat ini. Manajemen menegaskan langkah ini diambil untuk menangkap potensi raksasa dari ekosistem industri hijau (green industry) nasional.
Manajemen MUTU mengungkapkan bahwa total nilai potensi ekonomi hijau dan keberlanjutan (sustainability) di Indonesia saat ini ditaksir mencapai angka fantastis, yakni berkisar Rp8.000 triliun.
“Visi jangka panjang kami adalah menjadi salah satu enabler utama dalam pengembangan green industry dan green economy di Indonesia. Kami ingin mengoptimalisasi peluang Rp8.000 triliun tersebut agar menjadi valuasi riil bagi ekonomi Indonesia, dan khususnya bagi pertumbuhan MUTU," ungkap Arifin Lambaga, Presiden Direktur PT Mutuagung Lestari Tbk, di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Pasca-penerbitan 309 juta lebih saham baru yang mewakili hampir 10 persen kepemilikan tersebut, manajemen MUTU telah memetakan prioritas penggunaan dana segar. Berdasarkan Keterbukaan Informasi (KI) perusahaan, fokus utama alokasi dana akan diarahkan pada penguatan infrastruktur pengujian internal.
Sektor Lab Lingkungan mendapat porsi terbesar dengan alokasi mencapai sekitar 50 persen dari total dana yang dihimpun. Lain lagi, Perluasan Cakupan Pengujian dimana dana sisanya akan didistribusikan untuk ekspansi laboratorium komoditas masa depan, meliputi: Pengujian pangan dan keamanan konsumsi, Sertifikasi ekosistem halal, Uji toksikologi produk industri, dan Pengujian logam tanah jarang.
Menanggapi masuknya nama-nama besar seperti Sandiaga Uno dan Ridzki Kramadibrata tanpa adanya hubungan afiliasi hukum, manajemen MUTU menilai hal tersebut justru menjadi pembuktian nilai jual perseroan. Kesamaan visi di bidang lingkungan menjadi pengikat utama kolaborasi ini.
“Beliau-beliau ini betul-betul konsen pada masalah lingkungan dan sustainability. Masuknya para investor strategis ini akan memposisikan MUTU sebagai lokomotif. Salah satu lokomotif utama di Indonesia untuk menggerakkan perubahan dan memaksimalkan potensi hijau yang kita miliki,” ujar Arifin.
Arifin kemudian membocorkan bahwa kolaborasi dengan tim investor strategis ini sebenarnya telah digodok secara matang selama berbulan-bulan di balik layar. Pertemuan antara aspek digitalisasi dan keberlanjutan (sustainability) menjadi kunci optimalisasi bisnis emiten TIC ini ke depan.
Terkait target kinerja komersial untuk sisa tahun buku 2026, manajemen telah membentuk tim pemantau (monitoring) khusus bersama perwakilan investor untuk memastikan efisiensi berjalan di jalur yang tepat.
“Kami tidak bisa memberikan janji angka (proyeksi keuntungan), tetapi insya Allah dengan persiapan berbulan-bulan ini, hasilnya akan jauh lebih baik. Bukan cuma untuk sisa tahun 2026 ini, tetapi juga untuk tahun-tahun mendatang,” ucapnya lagi dengan optimis.
(Eugenia Siregar)










