Amankan Beban Masa Lalu, KAEF Perkuat Bisnis Hulu dan Hilir Lewat BBO dan Senior Care

Amankan Beban Masa Lalu, KAEF Perkuat Bisnis Hulu dan Hilir Lewat BBO dan Senior Care

Ekonomi | idxchannel | Senin, 29 Juni 2026 - 11:44
share

IDXChannel - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus memastikan upaya transformasinya dapat berjalan lancar dan maksimal demi memperkuat bisnis Perseroan ke depan. Langkah tersebut, di antaranya, juga dilakukan dengan komitmen penyelesaian beragam tantangan Perseroan dari kondisi masa lalu.

Seperti halnya terkait putusan arbitrase internasional dari Singapore International Arbitration Centre (SIAC), yang telah memutuskan kekalahan Perseroan, dalam proses sengketa dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan Silk Road Fund (SRF).

Terkait hal itu, pihak KAEF pun mengaku telah menerima salinan keputusan tersebut, dan tengah dalam proses berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, guna menentukan langkah terbaik bagi Perseroan dan pemegang saham.

"Kami memastikan akan mengelola dan menyelesaikan tantangan historis masa lalu hingga tuntas, dengan tetap memastikan tidak terganggunya transformasi bisnis dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat," ujar Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).

Dalam proses penyelesaian tantangan tersebut, menurut Djagad, pihaknya berkomitmen untuk senantiasa memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional perusahaan, termasuk manufaktur, distribusi, apotek, dan layanan kesehatan di seluruh jaringan Kimia Farma, tetap berjalan secara optimal untuk melayani kebutuhan masyarakat di sektor kesehatan.

Tak hanya itu, Djagad juga menilai bahwa komitmen penyelesaian tantangan historis masa lalu tersebut merupakan bentuk penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya Perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis ke depan.

Langkah penguatan tersebut, Djagad menjelaskan, menjadi bentuk strategi Perseroan dalam memanfaatkan tren positif keberhasilan KAEF dalam membalikkan posisi neraca keuangan, dari semula masih menderita kerugian, kini mulai berbalik untung sejak triwulan I-2026 lalu.

Tren positif tersebut datang dari capaian laba bersih KAEF pada tiga bulan pertama 2026 yang tercatat sebesar Rp123,63 miliar, dari posisi semula rugi di sepanjang 2025 lalu.

"Capaian positif ini membuktikan bahwa restrukturisasi keuangan yang sudah kami jalankan sejak dua tahun lalu, berikut transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien, telah berjalan di jalur yang tepat," ujar Djagad.

Guna terus melanjutkan tren positif tersebut, menurut Djagad, pihaknya pun fokus dalam mendorong upaya transformasi bisnis dari hulu hingga ke hilir. Di level hulu misalnya, langkah transformasi dilakukan dengan memangkas ketergantungan terhadap pasokan bahan baku impor, melalui pengoptimalan Bahan Baku Obat (BBO) lokal.

Langkah ini juga sekaligus menjadi wujud kontribusi KAEF sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dalam memperkuat kemandirian ekosistem farmasi Tanah Air.

Saat ini KAEF telah memproduksi BBO lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas, termasuk kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk penanganan HIV. 

Melalui anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perseroan memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM.

Dari 19 BBO tersebut, sebanyak 18 BBO telah bersertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Optimalisasi BBO lokal diharapkan bisa menekan ketergantungan impor bahan baku yang saat ini masih mencapai 95 persen.

"Melalui penguatan sektor hulu ini, kami juga sekaligus telah mencatatkan sejarah sebagai industri farmasi pertama di Indonesia yang fokus dalam mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal," ujar Djagad.

Sementara di sektor hilir, Djagad menjelaskan, pihaknya menangkap peluang strategis dari pergeseran demografi nasional dengan membangun ekosistem layanan Senior Care atau Healthy Ageing terintegrasi.

Dengan proporsi 20 persen dari total penduduk pada 2045 mendatang, segmen lansia diyakini bakal menjadi pendorong nilai ekonomi terbesar dalam industri kesehatan nasional secara keseluruhan.

Untuk membidik pasar lansia, KAEF melakukan optimalisasi jaringan retail apotek dan klinik Kimia Farma dengan ekosistem terpadu yang menyediakan obat-obatan untuk penyakit kronis (diabetes, hipertensi), suplemen preventif khusus, hingga layanan pemantauan kesehatan berkala yang dirancang khusus untuk ramah lansia.

Segmen ini diproyeksikan menjadi revenue generator baru yang stabil dan loyal bagi portofolio bisnis KAEF. Karenanya, KAEF sengaja menggeser fokus dari layanan kuratif konvensional menuju Preventive & Personalized Care melalui portofolio Healthspan.

Strategi ini didukung oleh rentang produk yang komprehensif, mulai dari obat-obatan kimia, produk nutraceutical, hingga produk herbal berkualitas tinggi yang dirancang untuk membantu lansia menjaga kemandiriannya lebih lama (longevity).

"Peran vital dalam ekosistem ini kami jalankan melalui PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) yang menjadi garda terdepan dalam layanan diagnostik, early screening, serta Medical Check-Up (MCU) khusus lansia untuk deteksi dini risiko penyakit kronis," ujar Djagad.

Sebagai solusi bagi pasien lansia dengan keterbatasan mobilitas, KAEF memiliki layanan Homecare sebagai pilar utama yang menyediakan Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse secara langsung di kediaman pasien.

Integrasi layanan ini memastikan pengelolaan penyakit kronis dan kesejahteraan lansia dapat terjaga secara inklusif tanpa harus meninggalkan rumah.

(taufan sukma)

Topik Menarik