Pendapatan Jasa Armada (IPCM) Terkoreksi 2,3 Persen di Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya
IDXChannel - PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) membukukan pendapatan usaha Rp347 miliar pada kuartal I-2026. Jumlah ini mengalami penurunan 2,3 persen dibandingkan kuartal I-2025 sebesar Rp355 miliar.
Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita, menjelaskan koreksi ini dipengaruhi oleh aktivitas impor yang lebih besar ketimbang ekspor pada periode tersebut. Selain itu ada faktor musiman di mana Idulfitri dan tahun baru Imlek yang terjadi hampir bersamaan di awal tahun sehingga berdampak pada aktivitas produksi pada periode tersebut.
"Memang terjadi penurunan di revenue. Jadi walaupun tadi ada peningkatan di beberapa sektor, tapi dapat kita lihat bahwa memang dari sisi impor lebih banyak daripada sisi ekspor, maka terkait dengan revenue kami ada penurunan sedikit slightly di minus 2,3 persen," ujarnya dalam Public Expose Live 2026, Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, perusahaan masih mampu mempertahankan profitabilitas. EBITDA naik 1,12 persen dari Rp87 miliar menjadi Rp88 miliar, sedangkan laba bersih tumbuh 3,03 persen dari Rp44 miliar menjadi Rp46 miliar. Peningkatan laba bersih di tengah penurunan pendapatan mengindikasikan bahwa perusahaan berhasil menjaga efisiensi biaya dan meningkatkan kualitas pendapatan.
Posisi keuangan IPCM hingga akhir Maret 2026 juga menunjukkan penguatan. Total aset meningkat 4,39 persen dari Rp1,715 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp1,790 triliun pada kuartal I-2026. Seiring dengan ekspansi aset tersebut, total liabilitas naik 8,39 persen dari Rp355 miliar menjadi Rp384 miliar. Meski kewajiban meningkat, ekuitas tetap tumbuh 3,35 persen dari Rp1,360 triliun menjadi Rp1,405 triliun, menandakan struktur permodalan perusahaan masih terjaga dengan baik.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko Dessy Emastari Prihatiningtyas menambahkan, penurunan pendapatan yang terjadi di kuartal I-2026 ini disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha di Tersus (Terminal Khusus). Penurunan pendapatan dari aktivitas di terminal khusus ini terutama disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi volume layanan.
Misalnya ada penurunan produksi komoditas seperti batu bara, CPO, dan mineral, yang membuat traffic kapal berkurang sehingga permintaan jasa pilotage dan juga towage itu menurun. Selain itu terjadi perubahan pola logistik di mana sebagian pengangkutan dialihkan ke jalur distribusi lain.
"Jadi meskipun revenue Q1 belum mencapai target, laba tetap tercapai berkat pengelolaan biaya operasional yang lebih efisien, sehingga margin laba perusahaan tetap terjaga," kata Dessy.
IPCM juga telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis untuk menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan, antara lain melakukan ekspansi layanan di Terminal Khusus (TERSUS) dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) melalui penguatan kerjasama strategis dengan para mitra.
Di saat yang sama, Perseroan tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan standar keselamatan operasional tetap terjaga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pemeliharaan tingkat pelayanan (Level of Service) yang optimal serta penerapan budaya keselamatan kerja yang konsisten guna mempertahankan pencapaian zero fatality di seluruh wilayah operasional Perseroan.
(NIA DEVIYANA)










