Dunia Sambut Pembukaan Kembali Selat Hormuz di Tengah Konflik AS-Iran
IDXChannel - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk kapal komersial.
Dillansir dari laman Aljazeera Sabtu (18/4/2026), Araghchi menyatakan bahwa jalur air strategis tersebut sepenuhnya terbuka sesuai dengan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku sehari sebelumnya.
Trump menegaskan di media sosial bahwa selat tersebut terbuka dan mengklaim Iran telah setuju untuk tidak akan pernah menutup Selat Hormuz lagi.
Namun, ia juga memposting bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku penuh. Secara paralel, Prancis dan Inggris mengadakan pertemuan di Paris yang melibatkan sekitar 40 negara, di mana mereka sepakat untuk berperan dalam memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz setelah perang AS-Israel terhadap Iran berakhir. Pemblokiran kapal tanker untuk menggunakan selat tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen minyak mentah dunia setiap harinya, telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar global.
Para pemimpin dunia pun menyambut berita tersebut dengan optimisme di tengah pesan yang beragam dari AS dan Iran:
“Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk bisnis dan lalu lintas penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku penuh dan efektif hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen,” tulis Trump di Truth Social.
Beberapa menit kemudian, ia mengeluarkan unggahan lain yang menyatakan bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran "akan tetap berlaku sepenuhnya" hingga Teheran mencapai kesepakatan dengan AS, termasuk mengenai program nuklirnya.
Kemudian, Trump mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang di Iran "hampir tercapai", dan mengatakan bahwa "tidak ada lagi poin yang menjadi kendala" antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memposting di X bahwa selat tersebut "dinyatakan sepenuhnya terbuka" dan akan tetap terbuka selama sisa periode gencatan senjata Israel-Lebanon selama 10 hari, yang mulai berlaku Kamis malam hingga Jumat pagi.
Beberapa laporan media pemerintah Iran kemudian tampak bertentangan dengan pengumuman Araghchi, dengan seorang pejabat militer senior mengatakan kepada media pemerintah bahwa hanya kapal non-militer yang diizinkan untuk melintas dengan izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Kantor berita Fars, yang dekat dengan IRGC, mencatat "keheningan aneh dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi", badan pembuat keputusan tertinggi de facto di negara itu, karena status pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, masih belum diketahui.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjadi tuan rumah sebuah pertemuan puncak mengenai potensi misi militer untuk mengamankan Selat Hormuz dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada hari Jumat, dengan sekitar 30 hingga 40 negara berpartisipasi secara langsung atau melalui konferensi video.
Di sela-sela pertemuan, Starmer dengan hati-hati menyambut baik berita pembukaan kembali selat tersebut tetapi mengatakan bahwa hal itu harus menjadi "proposal yang berkelanjutan dan dapat diterapkan".
Setelah pertemuan tersebut, Macron juga mengatakan, “Kita semua menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, segera, dan tanpa syarat oleh semua pihak. Kita semua menentang pembatasan atau sistem perjanjian apa pun yang pada dasarnya merupakan upaya untuk memprivatisasi selat tersebut dan, tentu saja, sistem pungutan tol apa pun,” tuturnya.
(kunthi fahmar sandy)










