Harga CPO Rebound, Ditopang Pelemahan Ringgit

Harga CPO Rebound, Ditopang Pelemahan Ringgit

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 11 Maret 2026 - 15:50
share

IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada Rabu (11/3/2026), didukung pelemahaan ringgit sekaligus mengikuti penguatan minyak kedelai di pasar Chicago.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives naik 1,33 persen, menjadi 4.487 ringgit Malaysia per ton pada pukul 15.10 WIB. Sebelumnya pada sesi pagi, harga sempat turun ke level 4.395 ringgit.

“Kontrak berjangka minyak sawit diperdagangkan lebih kuat, terutama ditopang pelemahan ringgit serta efek rambatan dari penguatan kompleks minyak nabati yang lebih luas, mengikuti kenaikan soyoil Chicago selama jam perdagangan Asia,” kata seorang analis yang berbasis di Singapura, seperti dikutip Reuters.

Namun, ia menambahkan bahwa momentum kenaikan masih tertahan oleh pertimbangan pasokan global yang masih berlangsung.

Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 2,04 persen. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,02 persen setelah sebelumnya turun 0,19 persen pada perdagangan pagi.

Sementara, kontrak minyak sawitnya bertambah 0,38 persen setelah sempat melemah 0,25 persen sebelumnya.

Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.

Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan kontrak tersebut, melemah 0,03 persen terhadap dolar AS sehingga membuat minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.

Harga minyak mentah kembali turun pada Rabu, setelah muncul laporan bahwa Badan Energi Internasional mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-10 Maret melonjak 45,3 persen dibandingkan 1-10 Februari, menurut perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia.

Sementara itu, lembaga survei kargo Intertek Testing Services melaporkan kenaikan sebesar 37,9 persen.

Kenaikan harga minyak nabati dan tarif pengangkutan mendorong pembeli India beralih ke pengiriman cepat (prompt shipments) karena khawatir pengiriman minyak kedelai dan minyak bunga matahari yang baru dibeli dapat tertunda akibat konflik di Timur Tengah. (Aldo Fernando)

Topik Menarik