Menilik Tiga Pilar Utama Bisnis Astra (ASII), Sumbang 90 Persen Laba Bersih

Menilik Tiga Pilar Utama Bisnis Astra (ASII), Sumbang 90 Persen Laba Bersih

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 27 Februari 2026 - 15:14
share

IDXChannel - PT Astra International Tbk (ASII) memiliki sembilar pilar bisnis mulai dari divisi Otomotif & Mobilitas hingga Properti. Emiten konglomerasi itu membukukan laba bersih sebesar Rp32,7 triliun sepanjang 2025.

Menariknya, pilar bisnis Astra ditopang utamanya oleh tiga divisi, yakni Otomotif & Mobilitas, Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi, serta Jasa Keuangan. Ketiga pilar tersebut menghasilkan laba bersih Rp29,4 triliun atau setara dengan 90 persen dari total laba Astra sepanjang tahun lalu.

Kinerja divisi Otomotif & Mobilitas tetap stabil pada 2025 dengan raihan laba bersih Rp11,4 triliun, tertinggi di antara divisi-divisi lainnya. Meski volume penjualan mobil tertekan, divisi ini tetap tangguh karena dibantu oleh bisnis sepeda motor dan komponen.

Penjualan sepeda motor secara nasional masih naik 1 persen menjadi 6,4 juta unit saat angka penjualan mobil turun 7 persen menjadi 804 ribu unit. Astra lewat PT Astra Honda Motor (AHM) memiliki pangsa pasar yang stabil di kisaran 78 persen.

Selain itu, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) yang memproduksi suku cadang meraup laba bersih Rp1,8 triliun, tumbuh 18 persen secara tahunan. Adapun PT Serasi Autoraya yang bergerak di bidang solusi transportasi dan logistik juga mencatat pertumbuhan kontrak sebesar 3 persen. OLXMobbi juga membukukan kenaikan penjualan mobil bekas 21 persen menjadi 33.100 unit.

Sementara divisi Jasa Keuangan mencatat kinerja yang stabil dan berkelanjutan bagi Astra Group. Divisi ini menghasilkan laba bersih Rp9 triliun dengan margin tertinggi di antara divisi-divisi lainnya.

Pembiayaan baru naik 5 persen menjadi Rp112,3 triliun, termasuk kontribusi PT Federal International Finance (FIF) yang naik 5 persen menjadi Rp4,7 triliun. Pembiayaan alat berat juga naik 11 persen menjadi Rp13,9 triliun sehingga menyumbang laba Rp223 miliar. PT Asuransi Astra Buana juga ikut menyumbang laba bersih Rp1,6 triliun.

Berbeda dengan dua pilar di atas, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi justru turun 24 persen imbas penurunan harga batu bara. Namun, penurunan ini dicegah lebih dalam dari segmen pertambangan emas.

Astra mencatat penjualan alat berat Komatsu hanya tumbuh 2 persen menjadi 4.500 unit pada 2025. Sementara kinerja anak-anak usaha PT United Tractors Tbk (UTNR) turun, termasuk PT Pamapersada Nusantara yang mencatatkan pengupasan lapisan tanah yang lebih rendah 10 persen menjadi 1,1 miliar bank cubic meters (bcm).

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, kinerja Astra sedikit menurun, terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan pasar mobil baru yang lemah. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya.

"Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik. Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan," katanya melalui keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).

Kinerja divisi-divisi Astra lainnya memang lebih moncer. Laba divisi Agribisnis lewat PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) misalnya, tumbuh 28 persen menjadi Rp1,17 triliun, sedangkan laba divisi Infrastruktur melesat 24 persen menjadi Rp1,26 triliun dan IT naik 33 persen menjadi Rp208 miliar.

Meski porsinya kecil, laba divisi properti juga melejit 224 persen menjadi Rp719 miliar. Kenaikan laba divisi properti ini berasal dari aset-aset gudang industri serta pengakuan goodwill negatif atas akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP).

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik