Wamen ESDM: Transisi Energi Bisa Tarik Investasi hingga Rp1.682 Triliun

Wamen ESDM: Transisi Energi Bisa Tarik Investasi hingga Rp1.682 Triliun

Terkini | idxchannel | Kamis, 5 Februari 2026 - 06:50
share

IDXChannel - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap dekarbonisasi industri di Indonesia. Alih-alih dianggap sebagai beban biaya, transisi energi justru membuka peluang ekonomi yang sangat besar. 

Yuliot menjelaskan bahwa peta jalan menuju energi bersih memiliki potensi menarik investasi hingga Rp1.682,4 triliun. 

"Pengembangan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pasokan energi bersih, tetapi juga memberikan penambahan ekonomi yang signifikan. Antara lain mendorong investasi sekitar Rp1.680 triliun lebih, menciptakan lebih dari 700.000 lapangan kerja Green Job dan juga ini akan mengurangi emisi Sekitar 120 sampai dengan 130 juta ton karbondioksida," ujarnya dalam SUAR Roundtable Discussion yang digelar di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Lebih rinci, investasi besar itu diproyeksikan memberikan dampak langsung pada penyerapan tenaga kerja nasional. Diperkirakan ada potensi penciptaan hingga 760 ribu lapangan kerja hijau (green jobs) yang tersebar dari tahap pra-konstruksi, masa konstruksi, operasi dan pemeliharaan, hingga industri manufaktur komponen pendukung energi terbarukan. 

Meski potensinya besar, Yuliot mengakui tantangan utama dalam merealisasikannya adalah aspek pendanaan. Dia menekankan urgensi skema pembiayaan inovatif agar proyek-proyek energi hijau menjadi lebih menarik secara komersial (bankable).

"Sektor keuangan, bagaimana kita membuat pembiayaan hijau dengan skema blended finance yang bisa lebih menguntungkan baik bagi pelaku usaha maupun dari sektor finansial itu sendiri," kata dia.

Menurut Yuliot, konsep blended finance penting untuk menjembatani kesenjangan antara kelayakan proyek dan ekspektasi imbal hasil investor. Pemerintah memahami bahwa mengandalkan APBN saja tidak cukup untuk mencapai target kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) yang ambisius. Kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi prasyarat penting untuk menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan mengurangi risiko.

Selain tantangan finansial, Yuliot juga menekankan bahwa transisi energi merupakan upaya kolektif yang membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak di luar pemerintah untuk menjaga daya saing.

"Ini tidak hanya dijalankan oleh pemerintah, tetapi bagaimana kolaborasi kita bersama untuk mewujudkan kelebihan energi, daya saing global dan juga keberlanjutan lingkungan," kata Yuliot.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik