Program MBG Indonesia Jadi Contoh Integrasi Petani-Pasar di WEF Davos 2026
IDXChannel - Program makan bergizi gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah menjadi salah satu contoh integrasi kebijakan ketahanan pangan dan perlindungan sosial dalam forum World Economic Forum (WEF) Davos 2026.
Program tersebut dinilai mampu menghubungkan petani kecil dengan pasar sekaligus memperkuat gizi anak di tengah tantangan perubahan iklim global.
Hal ini mengemuka dalam diskusi panel bertajuk 'Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems' yang digelar di Indonesia Pavilion, Kamis.
Dalam sesi tersebut, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menegaskan komitmen Indonesia membangun sistem pangan yang tangguh melalui penguatan pertanian berkelanjutan, rantai pasok yang resilien, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi.
Assistant Executive Director for Partnership and Innovation World Food Programme (WFP), Rania Dagash-Kamara, menilai Indonesia menunjukkan kepemimpinan kuat dalam membangun sistem pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan pendekatan yang terkoordinasi dan dipimpin pemerintah.
"Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang tangguh terhadap iklim membutuhkan kepemimpinan pemerintah yang kuat, sistem perlindungan sosial yang responsif, serta keberanian untuk bertindak sebelum krisis terjadi. Tidak banyak negara yang mampu melakukan ini secara terpadu, dan Indonesia adalah salah satunya," ujar Rania dalam keterangan resmi, Sabtu (24/1/2026).
Dari sisi teknologi dan data, CEO ClimateAi Himanshu Gupta menilai pendekatan sistemik Indonesia relevan dalam menjaga stabilitas pangan di tengah dinamika global, terutama dengan modal capaian swasembada beras di sebagian besar tahun.
"Indonesia memiliki modal penting dalam ketahanan pangan, termasuk tingkat swasembada beras di sebagian besar tahun. Pendekatan sistemik dan berbasis data akan menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan tersebut di tengah tantangan iklim dan dinamika global," tutur Himanshu.
Sementara itu, Chairman and Group CEO United Phosphorous Limited (UPL) Jai Shroff menilai investasi teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat sistem pangan nasional.
"Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berinovasi di sektor pertanian. Banyak masyarakat yang terlibat langsung dalam pertanian, dan dengan teknologi yang tepat, perubahan besar sangat mungkin terjadi," kata Shroff.
Dari perspektif pelaku usaha tani, Ana Carolina Zimmerman, petani dari Fazenda Ribeirao, menekankan pentingnya penguatan institusi dan kolaborasi internasional agar manfaat inovasi dapat dirasakan secara merata oleh petani kecil. Peran institusi riset yang terhubung dengan pemerintah dan pembelajaran global sangat penting untuk membangun pertanian yang produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim.
"Indonesia dan banyak negara lain menghadapi tantangan ketimpangan yang serupa. Pelajaran utamanya adalah memastikan inovasi dan teknologi pertanian dapat diakses oleh semua, bukan hanya sebagian," ucapnya. (Wahyu Dwi Anggoro)










