Rupiah Dekati Rp17.000, Purbaya Klaim Efek ke Ekonomi Minim

Rupiah Dekati Rp17.000, Purbaya Klaim Efek ke Ekonomi Minim

Terkini | idxchannel | Selasa, 20 Januari 2026 - 16:44
share

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penilaian menenangkan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di posisi Rp16.985 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1/2026).

Menurut Menkeu, depresiasi mata uang Garuda saat ini masih dalam batas yang wajar secara persentase dan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Purbaya menekankan bahwa sistem keuangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang terjaga dengan baik.

“Kalau pelemahan kan dilihat dari percentage kan, sedikit kan dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga. Jadi kemungkinan dampak ke ekonomi akan minimum,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (20/1/2026).

Menkeu menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sekitar 2-3 persen secara year-to-date (ytd) masih sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi. Ia menyoroti fenomena di pasar modal di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menguat, yang mengindikasikan bahwa kepercayaan investor dan arus modal asing masih terus mengalir masuk ke Indonesia.

“Yang penting adalah gini, ketika fondasi ekonomi kita terus membaik, aktivitas ekonomi dalam negeri akan meningkat, orang akan melihat ekonomi kita bagus, investor akan balik lagi ke sini termasuk investor asing. Anda lihat pasar modal kan naik kan? Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing atau investor domestik masuk ke sini juga,” tuturnya.

Dari sisi ketersediaan valuta asing, Purbaya memastikan pasokan dolar AS di pasar domestik masih mencukupi.

“Harusnya kalau lihat dari sisi supply dolar harusnya enggak kekurangan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga memberikan imbauan tegas kepada para pelaku pasar agar tidak melakukan spekulasi yang berlebihan di tengah pergerakan nilai tukar yang cenderung menjauhi nilai fundamentalnya.

“Untuk yang spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu,” tegas Purbaya.

Bagi para pelaku usaha, khususnya importir, Menkeu menilai tingkat pelemahan saat ini masih berada dalam ambang batas yang dapat dikelola.

“Ini berapa persen rupiah melemah dibanding sebelumnya? Year to date berapa? 2–3 persen. Anda importir ada kenaikan 2–3 persen, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa,” ujarnya.

Mengenai dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama subsidi energi, Purbaya memastikan posisi fiskal masih aman karena kenaikan nilai tukar diimbangi oleh harga minyak dunia yang masih berada di bawah asumsi makro.

“Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” katanya.

Purbaya menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat, meski otoritas kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia.

“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” kata dia.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik