Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono Diyakini Bisa Perkuat Stabilitas Moneter

Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono Diyakini Bisa Perkuat Stabilitas Moneter

Terkini | idxchannel | Selasa, 20 Januari 2026 - 10:40
share

IDXChannel - Nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono masuk bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Sosoknya dinilai bisa merepresentasikan figur milenial profesional yang kompeten dalam memperkuat stabilitas moneter nasional.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai meski banyak pihak mengkhawatirkan mengenai independensi bank sentral, namun publik harus melihat sisi profesionalisme Thomas. Menurutnya, Thomas adalah sosok yang tepat untuk dipersiapkan memimpin bank sentral di masa depan.

"Thomas Djiwandono ini adalah seorang yang mempunyai figur milenial yang cukup bagus dalam masalah keuangan, sehingga wajar kalau seandainya Thomas Djiwandono itu masuk bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia dan kemungkinan besar lima tahun ke depan akan dipersiapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia," ujarnya dalam pernyataan resminya kepada awak media, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ibrahim menegaskan, posisi yang diincar Thomas adalah jabatan profesional yang bersifat independen. Dia meyakini masuknya Thomas ke jajaran Dewan Gubernur BI justru bertujuan untuk memperkokoh koordinasi kebijakan demi fondasi ekonomi yang lebih kuat.

"Kita harus lihat bahwa Thomas Djiwandono adalah seorang profesional, jangan melihat dari partai yang mengusung, ini adalah jabatan independen untuk bergabung menjadi Deputi. Kenapa Thomas Djiwandono dimasukkan di Deputi Gubernur Bank Indonesia? Adalah untuk memperkuat, memperkuat fondasi moneter di Bank Indonesia," kata Ibrahim.

Ibrahim juga membedakan kondisi di Indonesia dengan Amerika Serikat (AS), di mana dia mencatat posisi yang diajukan adalah level Deputi, bukan Gubernur bank sentral secara langsung. Sehingga, prosesnya tetap berada dalam koridor penguatan institusi.

Mengenai kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini tertekan dan hampir menyentuh level Rp17.000 per USD, Ibrahim menyampaikan hal tersebut murni disebabkan oleh komplikasi faktor eksternal dan internal, bukan akibat isu pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.

Secara eksternal, tekanan datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Greenland, perang dagang antara Uni Eropa dan China, hingga kebijakan tarif impor Presiden Trump yang mencapai 25 persen. Selain itu, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed yang diprediksi tetap tinggi (higher for longer) menjadi faktor utama pelemahan mata uang global, termasuk rupiah.

"Pelemahan mata uang rupiah itu bukan semata-mata karena Thomas Djiwandono mencalonkan diri sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, tetapi memang karena permasalahan yang sudah komplikasi, kontraksi baik secara eksternal maupun internal. Masalah Thomas Djiwandono masuk ke calon jajaran Bank Indonesia ini pun juga hanya sedikit saja persentasenya tidak terlalu besar. Karena sebelum-sebelumnya rupiah ini terus mengalami pelemahan," kata Ibrahim.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti pelebaran defisit neraca perdagangan hingga 3 persen dan penurunan pendapatan pajak sebagai beban nyata bagi rupiah saat ini. Dia menegaskan, tren pelemahan ini sudah terjadi sejak awal 2025 dan pelantikan Trump, jauh sebelum isu pencalonan Thomas mencuat.

Dengan hadirnya figur muda yang profesional seperti Thomas di BI, kata Ibrahim, diharapkan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan lebih efektif untuk menghadapi badai ekonomi global yang tengah memanas.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik