Realisasi Investasi Hilirisasi Capai Rp584,1 Triliun Sepanjang 2025

Realisasi Investasi Hilirisasi Capai Rp584,1 Triliun Sepanjang 2025

Berita Utama | idxchannel | Kamis, 15 Januari 2026 - 15:34
share

IDXChannel - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani melaporkan realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen secara tahunan (year on year/YoY). 

Rosan memaparkan, nilai tersebut setara dengan 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional tahun 2025 yaitu Rp1.931,2 triliun.

Dia menegaskan peran strategis hilirisasi adalah sebagai motor utama pertumbuhan industri dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

"Hilirisasi sudah mulai berjalan berjalan dengan baik, ini tidak hanya mineral, sekarang kita lebih ke perkebunan. Sekarang nilainya, di sektor kehutanan, gas bumi, ini akan meningkat," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Saat ini, hilirisasi mineral masih menjadi kontributor terbesar dengan total investasi Rp373,1 triliun. Jika dirinci, nikel mendominasi sebesar Rp185,2 triliun, diikuti tembaga Rp65,9 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas mineral lainnya seperti pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, dan aspal Buton sebesar Rp18,4 triliun.

Selain mineral, sektor perkebunan dan kehutanan juga mencatatkan kontribusi besar dengan total investasi Rp144,5 triliun. Investasi terbesar berasal dari kelapa sawit Rp62,8 triliun dan kayu log Rp62,2 triliun, disusul karet Rp12,9 triliun serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp6,6 triliun. 

Hilirisasi sektor ini diarahkan untuk memperkuat industri turunan seperti oleokimia, biomaterial, dan energi terbarukan.

"Tahun ini saya perkirakan sektor perikanan dan perkebunan akan tumbuh lebih tinggi dapat investasi untuk hilirisasi," kata Rosan.

Sektor minyak dan gas bumi mencatatkan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp60,0 triliun, yang terdiri dari minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun, terutama untuk pengembangan kilang, petrokimia, dan fasilitas pengolahan lanjutan. Sementara itu, sektor perikanan dan kelautan membukukan investasi Rp6,4 triliun, mencakup pengolahan komoditas seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, tilapia, hingga garam.

Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan porsi 73,5 persen atau Rp429,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi 26,5 persen atau Rp154,5 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya minat investor global terhadap proyek-proyek hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi.

Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong (RRT) USD6,2 miliar, China USD4,8 miliar, Malaysia USD3,0 miliar, dan Amerika Serikat USD1,6 miliar. Masuknya investor dari Asia Timur dan Asia Tenggara menegaskan kuatnya integrasi rantai pasok industri pengolahan Indonesia dengan pasar regional dan global.

Rosan memaparkan, dari sisi wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Realisasi di luar Jawa mencapai Rp415,4 triliun atau 71,1 persen, sementara Pulau Jawa menyumbang Rp168,7 triliun atau 28,9 persen. 

Tingginya porsi luar Jawa mencerminkan kuatnya arus investasi di kawasan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

Sementara untuk lokasi, lima besar daerah tujuan investasi hilirisasi sepanjang 2025 didominasi kawasan industri berbasis mineral. Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama dengan Rp110,0 triliun, disusul Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun. Dominasi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tidak terlepas dari masifnya pembangunan smelter dan industri pengolahan nikel.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik