Bahlil Laporkan Konsumsi Listrik per Kapita Indonesia Tahun 2025 Capai 1.584 kWh
IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan konsumsi listrik per kapita Indonesia pada 2025 mencapai 1.584 kWh per kapita, atau 108,2 persen dari target 1.464 kWh per kapita.
Bahlil mengatakan capaian tersebut merupakan tren peningkatan yang konsisten dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, konsumsi listrik per kapita berada di level 1.123 kWh, meningkat menjadi 1.173 kWh pada 2022, lalu 1.337 kWh pada 2023, dan 1.411 kWh pada 2024, sebelum akhirnya menembus 1.584 kWh pada 2025.
Menurutnya peningkatan konsumsi listrik per kapita menjadi indikator menguatnya aktivitas ekonomi nasional, khususnya dari sektor industri, hilirisasi, pertumbuhan kawasan industri dan ekonomi digital serta pemerataan pemasangan listrik di desa-desa.
Ia mengatakan sepanjang 2025 Program Listrik Desa telah direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat rasio elektrifikasi nasional sekaligus memperkecil kesenjangan pembangunan antardaerah.
"Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan dan permintaaan, itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Kedua, adalah terjadi pemerataan, ini terjadi akibat program listrik desa," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, belum lama ini.
Seiring dengan meningkatnya konsumsi listrik, pemerintah juga terus memperkuat sisi pasokan. Data Kementerian ESDM menunjukkan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional pada 2025 mencapai 107,51 gigawatt (GW), naik sekitar 7 GW dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2024, kapasitas terpasang tercatat sebesar 100,65 GW, sementara pada 2023 berada di level 91,17 GW. Adapun pada 2022 sebesar 83,81 GW, 2021 sebesar 74,53 GW, dan 2020 sebesar 72,75 GW. Dengan demikian, kapasitas pembangkit tumbuh sekitar 6,8 persen secara tahunan (year-on-year) pada 2025.
Bahlil menegaskan bahwa peningkatan kapasitas pembangkit menjadi langkah strategis untuk memastikan keandalan pasokan listrik nasional, terutama dalam mendukung proyek-proyek industri besar dan kawasan ekonomi baru.
"Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini," tuturnya.
(kunthi fahmar sandy)










